dimanapun kamu ditanam, berkembanglah

Catatan Kecil

Blog EntryMOSSAD Di Balik Setiap KonspirasiJul 9, '08 12:40 AM
for everyone

MOSSAD, kedengarannya berat, seperti mendengarkan kata KOSTRAD. MOSSAD boleh dikata, saat ini adalah agen yang paling ampuh di dunia. Strateginya dipelajari oleh banyak kalangan, dan gerakannya sudah menjangkau banyak tempat.

MOSSAD adalah intelijen punyanya Israel. Kalau suka nonton film action seperti BOURNE ULTIMATUM, kita akan dapat beberapa trik dalam intelijen. Begitu juga dalam film DA VINCI CODE, nuansa trik yang memperlihatkan seberapa cerdas kita, menjadi begitu penting.

Informasi tentang MOSSAD yang baru saja saya baca kali ini berasal dari karangannya HERRY NURDI. Nurdi adalah wartawan Majalah Islam Sabili. Esai-esainya yang ada ada di Sabili, tidak jauh berbeda gaya penulisannya dengan di buku ini. Gayanya mendeskripsikan suatu objek.

Dalam buku ini yang judul aslinya "MOSSAD: Behind Every Conspiracy" (Cakrawala Publishing: 2007) Nurdi menjalaskan beberapa peran dan aksi MOSSAD di dunia ini.

Peristiwa terbunuhnya Syekh AHMAD YASSIN di Palestina pada pagi hari, itu hasil kerja dari MOSSAD. Terbunuhnya LADY DIANA dan peristiwa 9/11 di Manhattan US juga hasil kerja MOSSAD. Singkatnya, kata Herry Nurdi, banyak konspirasi dunia ini yang berasal dari hasil kerja MOSSAD.

--cover bukunya Herry Nurdi ada dalam picture ini, di bawahnya buku MENYANDERA TIMUR TENGAH dan PROFIL NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH


Blog EntryWawancara KTTI UIJul 8, '08 2:37 AM
for everyone
Tes hari kedua ujian masuk UI adalah wawancara. Untuk prodi Kajian Timur Tengah gelombang ke-2 diadakan setelah ujian tertulis, yakni Ahad 6 Juli 2008 di PPS UI Salemba. Saya berangkat jam 7 dari Srengseng Sawah, naik Kopaja 616 ke Pasar Minggu. Di Pasar Minggu, sebelum masuk stasiun, saya masukin di tas barang2 seperti HP dan dompet. Ini tidak biasanya. Saya jarang masukkan barang seperti itu di tas, cuma mungkin karena abis kecopetan pas naik kereta itu jadi memilih lebih hati-hati aja.

Saya turun di stasiun Cikini. Dari situ naek mobil ke Salemba. Di Gedung IASTH, sudah ada beberapa orang. Saya orang ke-8 kayaknya yang tiba. Selanjutnya berdatanganlah calon mahasiswa di situ. Ada yang kerja di BPPT, Kedubes Mesir, Deplu, AN TV dll. Jam 10an, kita masuk di ruangan. Bersama saya ada 20an orang; beberapa orang yang memilih Politik dan HI di Timteng, Islam dan Psikologi dan Masyarakat dan Budaya Timteng hanya seorang.

Oleh Pak Ramzi, kita diminta mengisi sebuah form. Isinya biodata sama pendapat kita, pengalaman. Pak Ramzi minta semuanya santai-santai saja dan benar memang santai gayanya. Beliau pernah kuliah di Amerika, anaknya sekarang aktif di Jamaah Tabligh di California. Pak Ramzi banyak cerita tentang kesalahan Amerika dalam perang Irak, sekaligus ternyata pasca 9/11 rata-rata di kampus Amerika ada Islamic Studiesnya. Kajian Timur Tengah saat ini banyak yang minati. Di UI sendiri sampai tahun ke-6 Pusat Studi Kajian Timur Tengah (PSKTTI) dibuka, kurang lebih 500 mahasiswa master telah diwisuda.

Kelak kata Pak Ramzi, Islam yang akan menguasai dunia. Maka dari itu, kata dia kalo kita memilih pemimpin jangan pilih yang malas sholat. Pilihlah yang jiwanya selalu di atas sejadah. Pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz katanya, yang mensejahterakan masyarakatnya itu ada karena dia rajin sholat. Dia sholat bukan hanya karena ingin dilihat orang. Umar bahkan memisahkan antara lentera yang dananya dari negara dan miliknya sendiri.

Pak Ramzi banyak cerita masalah pemimpin negeri ini dari Bung Karno, Pak Harto sampe SBY. Di Indonesia ini kita kekurangan pemimpin yang rajin sholat. Begitu juga ilmuwan yang dekat sama Tuhan. Semua bencana yang terjadi, seperti Tsunami Aceh itu karena orang Acehnya emang maksiat sama Allah. Amerika juga menurutnya, sangat potensial untuk terjadi bencana. Kata beliau, saat ini ada kurang lebih 1400 titik api di Amerika yang kalau itu meledak akan menghancurkan Amerika.

Paparan Pak Ramzi membangkitkan semangat kita--walau sebenarnya kita ini belum lulus tes masuknya--untuk menjadi ilmuwan muslim. Sambil mengutip data, kata beliau pernah ada survey yang diadakan sedunia. Ada 500 ilmuwan ditanya, siapakah 100 ilmuwan terbaik di dunia ini. Kemudian dari 100 itu mereka ditanya siapakah 10 dari mereka yang paling terbaik. Ternyata, ke sepuluh ilmuwan terbaik dunia itu 9 nya adalah orang Islam. Jadi, kata beliau saat ini orang Islam sudah unggul--walaupun dulunya memang sudah unggul berabad abad.

Saya duduk kurang lebih 2 meter dari Pak Ramzi, pas di depannya. Samping kanan saya dari Ternate juga, dia ambil psikologi dan Islam, sedangkan samping kiri saya akhwat alumni HI UGM. Suasana ruangan yang dingin membuat kita enjoy mendengar paparan Pak Ramzi yang menarik, sekaligus tidak membosankan.

Setelah paparan beliau, kemudian kita ditanya satu persatu. Saya giliran ketiga. Pertanyaanya, nggak banyak. Sebenarnya bukan pertanyaan, hanya memastikan aja. Di fom saya tulis lahir di Tobelo-Halmahera Utara. Setelah itu, beliau cerita pengalamannya di Tobelo. Setiap orang beliau komentari. Dia pernah di Golkar.

Di ruangan lain, wawancaranya satu persatu di depan dosen. Sedangkan kami santai-santai saja, di kursi masing-masing. Setelah wawancara, saya numpang di mobilnya Pak Hasanudin, bawaannya masih muda, tapi ternyata lahir tahun 1962, belaiu salah seorang kepala sub.bid di BPPT dan tamat master dari salah satu kampus.

Dari ruangan IASTH, saya shalat di Masjid ARH, ini kedua kalinya shalat di sini. Pertama kalinya bareng Matnur (mantan ketua BEM UI) sama Presiden BEM Unsri setelah acara Refleksi Akhir Tahun (RAT) BEM UI di Aula FK-UI. Masjid ini lagi direnovasi. Kabarnya, Pak Natsir dan Dewan Dakwah biasa memberikan pembinaan di masjid ini, karena memang dekat juga antara markasnya Dewan Dakwah sama ARH UI.


Blog EntryUjian Hari PertamaJul 5, '08 4:30 AM
for everyone
Soalnya standar, begitu kata salah seorang calon mahasiswa S2 UI. Standar, berarti gampang ya. "Standar sulitnya mas," begitu kata dia. Saya hanya denger dua orang di belakang saya ngobrol pas selesai ujian TPA.

Nggak terlalu sulit kayaknya, begitu juga nggak terlalu gampang soalnya. Tapi khusus saya, saya juga nggak tau gimana hasilnya nanti. Di matematika dasar, saya bener2 kewalahan. Selain karena sudah lama nggak belajar matematika, juga kurang paham. Soalnya lumayan standar gitu.

Jawaban saya paling banyak di bagian pertama, soal analogi.

Setelah ujian TPA di lantai 2 Fak Hukum, saya turun cari tempat shalat. Di dekat mushalla ketemu lagi dengan mas Ari, sang asisten dosen. Dia ternyata mau nyari makan, sama dengan saya. Akhirnya kita ke kantin. Ayam gorengnya lumayan enak, tapi sebenarnya lebih berasa ayam goreng yang di stand dekat Balairung itu.

Setelah TPA, kita ujian Bahasa Inggris. Soalnya nggak terlalu susah, kayaknya. Cuma jawabannya itu yang agak lumayan. Butuh konsentrasi apalagi buat saya yang agak kurang.

Besok ujian lagi wawancara di kampus salemba. Ujiannya jam 10 pagi. Tadi ujian mulai jam 9 pagi, saya gak terlambat karena tinggal di Srengseng Sawah, dekat dari UI, naek motor cuma 10 menit.

                                                                    Warnet Venus, dekat rel kereta UI. 05.07.08

-- oya, skr nmr hape saya yang terbaru, 081 384 930893

Blog EntryHA MINES SATU : UIJul 3, '08 11:51 PM
for everyone

Kuakan Menjagamu di Bangun dan Tidurmu…

        Letih masih mendera tubuh, tapi saya harus segera nomad. Tiba di Jakarta dini hari Rabu (2/06), saya numpang sama teman-teman pengurus BKPRMI Sulsel yang mau ikutan acara Festival Anak Shaleh (FASI) di Asrama Haji Pondok Gede. Di Priok, kita dijemput oleh salah seorang keponakannya Ust. Anis Matta, dan diberikan tempat di Jatiwaringin. Tiba jam 2 lewat nggak langsung tidur, minum teh, juga sambil nonton film Rambo IV yang sempat saya puter juga untuk refreshing penumpang kapal di Dek 5 KM. Lambelu.

        Dari Jatiwaringin, saya harus segera ke rumah paman di Jalan Muhammad Kahfi II Srengseng Sawah (dekatnya kampus ISTN). Dalam perjalanan pada sore yang letih itu bawa ransel dan sekoper baju, ada pemusik jalanan yang suaranya lumayan bagus. Tiba di depan Rumah Sakit Haji—tempat dimana saya pernah menjalani medical check up dan minum obat selama setahun di kelas III Tsanawiyah beberapa tahun lalu—seorang anak muda naik. Di angkot KR jurusan Pondok Gede-Kampung Rambutan itu, ada sekitar 7 penumpang. Ada ibu-ibu, juga tiga orang kerja, masih muda, kayaknya baru kerja di HSBC. Denger gosip mereka dari masalah temannya, gajinya yang dia nggak mau dilompati oleh lulusan SMU, sampai bahas lagu “JAUH” yang katanya dibuat oleh orang Jakarta Tanjung Priok—yang saya baca di Makassar, katanya syair lagu ini dibuat oleh anak Makassar yang kemudian diambil oleh orang Jakarta.

       Capek deh denger gosipnya cewek-cewek. Mau gimana lagi ya. Tapi pemusik jalanan itu menghiburku, juga menghibur cewek-cewek itu dan beberapa penumpang.

Dik aku pinta kau akan s’lalu setia

Dik aku mohon kau s’lalu menemani

Saat kutengah terluka kala kutengah gundah

 

“Kuakan menjagamu di bangun dan tidurmu

Di semua mimpi dan nyatamu

Kuakan menjagamu tuk hidup dan matiku

Tak ingin tak ingin kau rapuh”

 

Dik jangan engkau pergi tinggalkan aku

Dik ingin aku cinta dan cinta s’lalu

Saat kau tengah terluka kala kau tengah gundah

 

          Syair ini pertama kali saya denger di Warnet UKM Mandai di Maros. Sering sekali diputar, mungkin karena lagi trend. Akhirnya, saya denger kembali lagunya di depan Rumah Sakit Haji, dan ternyata MP3-nya ada juga di laptop ini. Syair ini isinya enak didengar, membuat kita terbuai, cuma kalo diperhatikan lebih jauh kesannya perjuangan kita kenapa hanya untuk wanita. Hidup dan mati kita kesannya hanya untuk si perempuan itu. Bukankah itu terkesan egois? Kenapa kita nggak dedikasikan hidup dan mati kita untuk orang yang kita kasihi (tapi bukan pacar maksud saya, tentu orang yang sudah halal bagi kita) begitu juga untuk masyarakat kita yang membutuhkan perjuangan kita?

          Beberapa syair yang pernah trend lalu juga begitu, enak didengar, tapi isi materinya kalau ditinjau dari perspektif Islam kurang pas begitu. Tapi, kenapa kita masih saja senang dengan lagu itu? Mungkin karena imajinasi dalam kepala kita berbeda-beda. Orang yang sudah punya keluarga, akan merasa akan menjaga keluarganya, hidup dan matinya dia berikan untuk menjaga keutuhan keluarganya. Bagi yang pacaran, atau yang putus cinta, lagu ini juga turut menginspirasi mereka, mereka tambah hanyut—tambah rindu dengan pacarnya atau tambah stress karena harus mengenang (kata orang, mengenang putus cinta itu menyakitkan!)

Kenapa S2 UI?

        Tujuan saya ke Jakarta periode ini adalah untuk ikut tes masuk S2 UI juga untuk ikut Silaturrahmi Nasional FLP. Keinginan saya ingin lanjut kuliah sudah sejak beberapa tahun lalu, bahkan sejak mahasiswa S1. Setelah tamat, beberapa senior yang dapat beasiswa ke luar negeri bilang coba ikutan beasiswa ke luar negeri. Akhirnya saya kirimkan form saya ke Jakarta. Tapi tes di UI kali ini bukan karena dapat beasiswa. Biaya sendiri aja.

        Beberapa minggu lalu pas buka email di milis Darut Tauhid ada informasi ujian masuk gelombang pertama dan kedua di UI. Saya cek webnya UI (ui.edu), ternyata ujian masuk untuk gelombang kedua sebentar lagi tertutup. Saya minta pendapat dari salah seorang ustadz apakah saya ikutan tes saat ini atau nunggu tahun depan saja. Beliau mengizinkan saya ikut test, cuma beliau juga memperlukan saya untuk jadi timnya dalam perhelatan tahun depan. Saya putuskan untuk membantu beliau karena saya percaya bahwa perjuangan beliau juga perjuangan kita semua. Seminggu kemudian, iseng-iseng telpon ke Tobelo, bicara dengan ibu dan ayah saya. Pas saya bilang sekarang ada ujian masuk S2 UI, ayah saya bilang, “tes saja, nanti biayanya kita cari.”

       Masalah biaya memang masalah klasik, tapi sebenarnya kalo dipikir-pikir banyak juga sumber pembiayaan untuk program master. Kita bisa cari di Pemda, juga lewat donatur yang bersedia bantu kita. Di Pemda Halmahera Utara, tempat saya berasal, dengar-dengar ada bantuan untuk mahasiswa S2 dengan syarat telah terdaftar kuliah.

        Kenapa saya memilih UI? Beberapa teman—termasuk teller BNI di Maros—pernah bertanya begitu. Kenapa nggak di Unhas saja, dekat dan murah pula. Saya mau coba di UI karena ini pusatnya Indonesia. Tahun 99, saya diterima di IAIN Syarif Hidayatullah dan UNHAS, tapi saya memilih Makassar. Tapi sekarang, telah tamat dari Makassar saya mau kembali ke ibukota karena masalah kualitas dan akses di ibukota relatif cepat ketimbang di daerah.

Kajian Wilayah Timur Tengah Islam

       Saya memilih prodi ini karena memang tertarik dengan bidang ini. Saya tertarik dengan Timteng karena sejak lama saya mau sekali kuliah di Al-Azhar Cairo, cuma belum sempat, akhirnya kuliah di “Al-Unhas” Makassar. Kajian Timteng menarik sekali karena masalah dunia ini terjadi karena perebutan harta di Timteng. Amerika butuh minyaknya Arab, Israel butuh eksistensi negara sejak 1948, juga karena Arab tempat turunnya para nabi. Kenalan saya yang juga mau ikutan tes, namanya Ari, asisten dosen Hukum Tata Negara di Pakuan Bogor, bilang, “sekarang kajian Timur Tengah akan berkembang.”

          Besok saya ujian…

       Kata teman saya, Hamran Sunu, santai aja. Memang sih santai, cuma tetap butuh persiapan. Besok ujiannya Tes Potensi Akademik (TPA), juga Bahasa Inggris—sebuah pelajaran yang dulu saya selalu menghindar darinya, tapi dia malah selalu mengejarku dan memintaku untuk menguasai dirinya.

Cobaan, Cobaan, Sabar

        Yang penting kita punya niat baik, berusaha, dan bekerja dengan tenang. Itu sudah cukup. Inti terpenting dalam hidup kita adalah perjuangan, seberapa kuat kita berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya. Perjalanan saya tertunda dari Makassar-Jakarta, kemudian pas tiba di pelabuhan, ternyata kapal terlambat datang, besoknya baru datang jam 6. Besoknya, ternyata tertunda lagi beberapa jam.

        Naik kapal desak-desakan. Masih mendingan Jack (Leonardo Dicaprio) waktu naek kapal Titanic pada 1914 nggak terlalu desak-desakan. Saya sudah biasa desak-desakan dengan buruh dan penumpang, tapi kemarin itu bener-bener, serasa mau pingsan. Terjepit, koper saya dibawah kakinya orang, sementara dari belakang orang teriak-teriak, seorang buruh malah dia taruh koper besar di atas koper saya, akibatnya susah sekali saya tarik koper. Tas makanan saya yang berisi burasa, abon, nasi, pop mie terjatuh. Tapi langsung saya ambil. Alhamdulillah.

      Di kapal nggak dapat tempat, cuma di emperan dek 5. Dapat tempat yang aman hanya sekitar 1 meter dikit. Kadang kaki dilipat kadang kali dipanjangin. Di emperan itu memang tempat lalu lalangnya penumpang. Dingin mendera, pake sarung. Tapi akhirnya tidur paling aman yang saya rasakan adalah dalam posisi duduk. Selain itu yang paling enak, itu juga untuk menjaga laptop, jangan sampe ada yang angkat lagi pas saya tidur.

         Dari Pasar Minggu saya ke kampus UI Depok untuk ambil kartu ujian. Setelah beli karcis kareta (tertulis Rp.1000, tapi bayarnya Rp. 2500), saya ingatkan teman saya Ansar yang juga baru kenal di kapal, “Sar, hati-hati di sini banyak copet. Jaga baek-baek tuh handy cam.” Ansar baru saja minjem handycam sama anak LIPIA, Taqiyuddin. Di tasnya juga ada laptop, seperti juga tas saya. Menunggu kereta datang, saya sms istri saya kalo saya bentar lagi naek kereta, sent.

       Desak-desakan sekali naeknya. Pas di dalam, berdiri, Ansar bilang ke saya, “Uangku hilang.” Hwa! Saya langsung raba HP di kantong celana kanan. Ha! Hilang juga! Ternyata HP saya juga raib. Segera saya raba dompet sama laptop di tas belakang. Alhamdulillah ada. Uangnya Ansar hilang kurang lebih Rp.80.000 sedangkan saya kehilangan HP Nokia yang HP itu saya beli dari uang hasil jual es batu selama 8 bulan di kampung. Astaga. Betul-betul nggak terasa.

   Tapi, apa boleh buat, sudah hilang. Seorang mahasiswa dekat saya bilang begini,”Hati-hati tuh tiga orang, kemaren dompet saya juga mau dia curi.” Belum selasai dia bilang, saya bilang kepadanya, “iya neh HP saya barusan ilang. Temen saya juga hilang uangnya.” Yaah…mogimana lagi. Sabar, sabar, sabar.

            Besok saya ujian…

            Nomor ujian                 : 2008261935

            Nomor registrasi           : 770815898

            Nama                           : Yanuardi Syukur

            Program Studi              : Magister/ S2

            Lokasi Ujian                 : Kampus Depok, Fak. Hukum E.202 No.1935

            Jadwal              : Sabtu, 5 Juli 2008 PK 09.00 – 14.30 WIB

            ….

       Saat ini saya ditemani buku-buku TPA dan Bahasa Inggris. Nanti setelah ujian apakah lulus atau tidak sudah saya persiapkan. Ada planning kalau lulus, dan ada planning kalau nggak lulus. Memang iya sepertinya kita harus siapkan diri untuk selalu siap berhasil juga siap gagal. Saat-saat seperti ini, kita harus berusaha keras, efektif untuk bisa keluar sebagai yang terbaik. Mohon doa yaaaa….

   Allahumma Inna Natawdi’uka Maa ‘Allamtanaahu Fardudhu Ilaya Inda Haajaatina Ilaihi.. Amin

Jumat, stgh 11, Srengseng Sawah Jkt

::

Terima kasih banyak buat Dala—yang kesekian kalinya selalu hadir di saat yang tepat—soal-soal itu bagus sekali buat latihan.

 

           

           

              


Blog EntryBergerak CepatJun 20, '08 4:53 AM
for everyone

Kita harus bergerak cepat karena ide, begitu juga momentum datang begitu cepat dan hilang dalam cepat.

Kita harus segera, siap selalu menangkap momentum di depan mata, siap mengendus dengan cermat bau-bau peluang untuk kita manfaatkan menjadi kesuksesan.

Peluang beasiswa, peluang lanjut kuliah, peluang usaha, peluang dakwah. Singkatnya, peluang apa saja yang datang, kita perlu cekatan untuk menangkapnya.

Mari, cekatan selalu dalam menangkap peluang dan momentum! Semoga kesuksesan selalu bersama kita.


Blog EntryJangan terlalu cinta jangan terlalu benciJun 11, '08 8:54 AM
for everyone

jangan terlalu cinta, begitu juga janganlah terlalu benci kepada orang. karena bisa saja orang yang kamu cintai malah suatu saat menjadi orang yang kamu benci, dan bisa saja orang yang benci saat ini menjadi orang yang kamu cintai esok hari.

Suatu waktu saya begitu simpatik kepada seseorang. Dia baik, suka membantu. Semua manusia pasti suka kepada akhlak seperti. namun semua itu kemudian menjadi buyar manakala ada sikapnya yang sangat kurang tepat. Ketika masalah datang kepadanya, dia malah lari masalah-masalah itu.

Setidaknya itu yang dirasakan oleh saya dan beberapa kawan. Teman kita itu baik pada dasarnya, namun dia begitu rapuh ketika dihadapi oleh masalah, apalagi dengan masalah uang. dia paling tidak tahan melihat banyak uang. dia pernah memakai uang orang lain yang sedianya akan diputar menjadi usaha yang bermanfaat bersama sebuah bank syariah.

Tapi, saya begitu simpatik kepadanya. karena dia baik, suka membantu. namun ketika datang kebiasaan masa lalunya, hmm dia menjadi sosok yang benar-benar lari dari kenyataan. dan itu yang disesalkan oleh orang yang pernah bersamanya.

Jadi, berkenaan dengan sahabat, jangan terlalu cinta padanya. begitu juga jangan terlalu benci kepadanya. yang proporsional saja...

--untuk seorang kawan yang membuatku pusing 14 keliling selama beberapa minggu terakhir..smg engkau berubah. amin


Blog EntryBelajar dari Kekuatan Jiwa Nabi YusufJun 3, '08 4:35 AM
for everyone

Belajar Dari Kekuatan Jiwa Nabi Yusuf

 

Kisah Nabi Yusuf adalah kisah yang menarik, terdapat di dalam Al-Qur’an dan selalu relevan pada setiap masa. Membaca kisah beliau dalam Al-Qur’an membawa kita untuk selalu berkaca pada sejarah masa silam, masa kini, bahkan fakta yang akan muncul di masa depan. Iri hati, konspirasi, intrik, cobaan, godaan wanita cantik, kekuasaan, bahkan sirkulasi kepemimpinan adalah bagian yang telah dilewati dengan baik olehnya, dan tema-tema ini selalu akan muncul di setiap detak perputaran jaman.    

            Kisah Nabi Yusuf diabadikan Allah dalam sebuah surat yang diambil dari nama beliau yaitu “Surat Yusuf” yang terdiri 111 ayat. Kisah Yusuf bermula dari sebuah mimpi yang ia katakan kepada ayahnya (Nabi Ya’kub). Allah SWT mengabadikan kisah ini dalam  surat Yusuf  ayat 4, “(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,”Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

            Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa mimpinya nabi-nabi merupakan bagian dari wahyu. Maka para ulama tafsir mena’birkan mimpi Nabi Yusuf itu seperti ini: Sebelas buah bintang menunjukkan sebelas orang saudaranya, matahari dan bulan adalah ibarat ayah dan ibunya, yang dalam pertemuan mereka kembali di Mesir setelah berpisah selama 40 tahun (ada yang menyebut 80 tahun) telah menyaksikan mimpi Yusuf itu menjadi kenyataan.

            Mendengar cerita Yusuf, ayahnya mengatakan kepadanya agar tidak menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya yang lain. Ini untuk menghindari timbulnya rasa iri hati mereka yang akan mendorong mereka untuk melakukan makar, konspirasi, tipu daya kepada nabi Yusuf.  Di ayat kelima, Allah SWT berfirman perihal jawaban Nabi Ya’kub, “Ayahnya berkata, “Anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat makar (untuk membinasakanmu). Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Iri Hati Saudara-Saudaranya

            Iri hati selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan ini. Qabil rela menghilangkan nyawa saudaranya Habil gara-gara perempuan, itu juga karena iri hati. Saudara-saudara Yusuf melihat bahwa tampaknya ayahnya pilih-pilih kasih kepada anak-anaknya, akhirnya mereka pun kalap dan membuat tipu daya. Mari kita lihat penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

            “Saudara-saudara Yusuf berunding dan bersumpah menurut perkiraan mereka, bahwa Yusuf dan adik kandungnya Bunyamin lebih dicintai oleh ayah mereka daripada mereka yang merupakan kelompok besar dan kuat. Mereka berkata, bahwa ayah mereka tersesat dan keliru besar dengan mencintai dua saudara mereka itu lebih daripada mereka. Karenanya, dalam perundingan itu, mereka berpendapat agar Yusuf yang menjadi saingan mereka merebut hati ayah mereka, dienyahkan saja dari muka ayah mereka, dengan membunuhnya atau mengasingkannya ke suatu tempat yang jauh, sehingga dengan demikian terbuka lebarlah hati ayah mereka.”

            Yang paling senior di antara mereka, bernama Rubil (Yehuda atau Syam’un dalam riwayat lain) berkata, “Janganlah kamu membunuhnya sekedar memuaskan rasa permusuhanmu dan kebencian kepadanya, tetapi cukuplah jika kamu memasukkannya ke dalam sebuah sumur, sehingga ada kemungkinan ia dipungut oleh serombongan musafir yang melalui sumur itu.” Dengan demikian, lanjut Rubil, “Tercapailah apa yang kamu inginkan; menjauhkannya dari ayah sedang ia (Yusuf) tetap hidup, tidak kehilangan nyawanya.”

            Menurut Ibnu Katsir, bahwasanya nabi Yusuf tidak dibunuh ketika itu adalah karena Allah telah menentukan dalam qadha dan qadhar-Nya. Karena nanti Yusuf masih akan menerima wahyu, akan diberi kesempatan untuk menguasai dan memimpin negara Mesir bahkan Allah masih akan memperlihatkan kepadanya betapa mimpinya itu menjadi kenyataan.

            Dalam keseharian, kita kerap menemukan orang yang iri hati. Mereka iri karena melihat kelebihan dalam diri orang lain. Akhirnya, karena tidak senang melihat itu mereka pun membuat planning yang sistematis untuk merusak citra orang tersebut, bahkan kalau perlu mereka akan menghabisi nyawanya. Sudah banyak kita saksikan di masyarakat, betapa seorang pejuang kebenaran yang sedang “naik daun” dibenci oleh lawannya, akhirnya sang lawan pun berupaya keras untuk mengenyahkannya. Ada yang dienyahkan lewat fitnah telah melakukan hal-hal yang amoral, ada yang dienyahkan dengan rekayasa, dituduh korupsi bahkan konspirasi untuk membunuh kepala negara, bahkan ada yang dienyahkan dengan racun atau peluru tajam yang menghilangkan nyawanya.

            Ini adalah fenomena yang sudah berlangsung lama. Konspirasi, tipu daya, fitnah, selalu datang dan pergi. Perebutan kekuasaan antara Al-Haq dan Al-Bathil gaungnya senantiasa ada di setiap masa. Akan tetapi kesabaran dan jiwa besar serta selalu menyerahkan diri kepada Allah akan membuat kita keluar sebagai pemenang.

Dijual

            Akhirnya, Nabi Yusuf pun dimasukkan ke dalam sebuah sumur. Saudara-saudaranya yang lain kembali ke rumah (dengan membawa gamis yang berlumuran darah palsu) dan dengan rekayasa mengatakan kepada ayah mereka bahwa ketika mereka lagi berlomba-lomba, mereka pun meninggalkan Yusuf di dekat barang-barang mereka. Namun tanpa mereka sadari Yusuf pun dimakan oleh serigala. Ayah mereka tidak percaya mendengar itu, salah satu bukti nyatanya adalah baju Yusuf yang tidak robek. Mereka lupa merobek-robek baju tersebut, karena jika serigala menerkam mangsa tentunya ia akan merobek-robek korbannya. Melihat kasus itu, sang ayah akhirnya bersabar dan memohon pertolongan dari Allah SWT.

            Yusuf akhirnya mendekam di dalam sumur sendirian selama tiga hari. Sekelompok musafir pun melewati jalur itu, salah seorang dari mereka menimba air. Saat dia turunkan timbanya, melihat ke bawah, dia berkata, “Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda!” Akhirnya, Yusuf pun dijual dengan harga yang murah karena mereka merasa tidak tertarik kepada Yusuf.

            Yusuf dibeli oleh seorang penguasa Mesir. Allah SWT berfirman, “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, ‘Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak). Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir) dan agar Kami ajarkan kepadanya tabir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyak manusia tidak mengetahuinya. Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 21-22)

            Allah memberikan karunia kepada orang yang baik. Nabi Yusuf pun mendapatkan karunia itu. Dari sumur, ia akhirnya bertempat tinggal di rumah sang penguasa. Ketika beliau besar, Allah pun memberikan lagi karunia-Nya kepada beliau. Ia mendapatkan dua hal penting: hikmah dan ilmu. Para ulama berbeda pendapat tentang tafsiran usia dewasa yang dimaksud dalam ayat ke-22 di atas. Ibnu Abbas, Mujahid dan Qatadah menafsirkan 30 tahun; Adh-Dhahhak menafsirkan 20 tahun; Al-Hasan menafsirkan 40 tahun; Ikrimah menafsirkan 25 tahun; As-Saddi 30 tahun dan Said bin Jubair 18 tahun. Usia pastinya, tentunya hanya Allah yang maha tahu.

Perangkap Wanita

            Salah satu godaan bagi lelaki adalah wanita. Betapa banyak lelaki tampan yang jatuh martabatnya gara-gara senyuman wanita. Betapa sering terjadi lelaki kaya, punya kuasa, punya gelar, tapi jatuh kemuliaannya gara-gara tipu daya kaum wanita. Wanita memiliki daya yang sangat besar bagi kemuliaan seorang laki-laki, pun demikian jika salah bisa mengakibatkan jatuhnya kemuliaan seorang lelaki.

            Setelah selamat dari rencana pembunuhan saudara-saudaranya, kemudian dijual dengan harga murah, Nabi Yusuf masih diuji oleh Allah dengan wanita. Ternyata, hari demi hari setelah Yusuf menjadi dewasa membawa ketertarikan tersendiri di hati istri sang penguasa. Perempuan itu bernama Zulaikha, yang jatuh cinta pada Yusuf. Karena sebegitu mendalam cintanya kepada ketampanan dan kemuliaan akhlak Yusuf, akhirnya sang wanita membuat konspirasi untuk memenuhi nafsunya. Ia kemudian merias diri dan menutup rapat-rapat pintu rumahnya dan memanggil Yusuf dengan perkataan, “Marilah ke sini.” Melihat gelagat itu Yusuf menolak ajakan istri majikannya itu. Di dalam Al-Qur’an Allah mengabadikan jawaban Yusuf atas ajakan itu, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23)

            Sebagai seorang lelaki, Yusuf juga memiliki keinginan yang sama juga dengan Zulaikha. Akan tetapi keinginan Yusuf kemudian dijaganya agar jangan sampai keluar dari ajaran Allah. Ia menjaga dirinya dari dosa itu, walau secara naluriah punya keinginan untuk menerima ajakan itu. Di ayat 24, Allah menceritakan tentang itu, “Sesungguhnya wanita itu bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (serupa) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian, Sungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”

            Orang yang terpilih adalah orang yang normal. Akan tetapi mereka tidak memanfaatkan normalnya itu untuk berbuat dosa. Allah SWT menjaga kesucian hati dan jiwa nabi Yusuf dari godaan Zulaikha dengan tanda-tanda kekuasan-Nya yang memalingkan hati Yusuf dari perbuatan keji dan mungkar. Berkenaan dengan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika hamba-Ku bermaksud melakukan perbuatan baik (hasanah) maka catatlah maksudnya itu sebagai satu hasanah. Tetapi jika ia melakukannya, maka catatlah baginya sebagai sepuluh hasanah. Dan jika ia bermaksud melakukan kejahatan (sayyi’ah) namun tidak sampai melakukannya maka catatlah itu sebagai suatu hasanah, sebab ia mengurungkannya karena Aku. Dan jika ia jadi melakukannya, catatlah seimbang dengan perbuatannya.”

            Nabi Yusuf pun berlari menuju pintu keluar. Namun Zulaikha yang sudah tidak terbawa perasaan tak ingin melewatkan moment itu dengan sia-sia. Zulaikha pun mengejarnya untuk menariknya kembali ke dalam. Zulaikha menarik baju gamis Yusuf dari belakang, tapi Yusuf bersikeras untuk keluar segera. Karena peristiwa tarik menarik itu akhirnya robeklah baju Yusuf. Dan saat tiba di pintu, kemudian muncullah suami Zulaikha. Akhirnya karena takut disalahkan, Zulaikha pun membuat tipu daya kepada suaminya, ia berkata, “Apakah pembalasan yang patut diterima oleh seorang yang bermaksud berbuat serong dan menodai kehormatan istrimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan hukuman dan azab yang pedih.”

            Nabi Yusuf pun memberikan pembelaannya, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku kepadanya dan memaksakan kehendaknya kepadaku.” Pada akhirnya keputusan akhirnya adalah Zulaikha yang bersalah, karena baju sang nabi robek dari belakang. Sekiranya baju nabi Yusuf robek dari depan berarti Yusuflah yang salah. Robeknya baju Yusuf dari belakang berarti Yusuf berlari, kemudian bajunya ditarik oleh Zulaikha yang mengakibatkan bajunya sobek.

            Dari kisah Yusuf dan Zulaikha ini kita bisa merenungkan betapa godaan selalu akan muncul dari kehidupan kita. Seorang lelaki akan digoda oleh wanita, seorang wanita juga jika tidak bisa mengendalikan diri akan tergoda oleh ketampanan dan budi luhur dari seorang lelaki. Godaan ini sifatnya abadi. Bahkan Rasulullah SAW juga pernah ditawarkan oleh Quraisy wanita yang paling cantik di kota itu, asalkan beliau berhenti mendakwahkan ajarannya.

            Godaan demi godaan sebenarnya selalu akan muncul kepada kita. Pertanyaan yang paling penting bagi kita sebenarnya, bukan kepada godaan itu muncul, akan tetapi bagaimana cara kita menghadapi godaan tersebut. Ini berkenaan dengan cara. Cara berarti terkait dengan seberapa besar kekuatan jiwa kita, keyakinan kita, dan kedekatan kita dengan Allah. Seorang yang kuat jiwanya, yang dekat kepada Allah akan sangat takut jika melakukan suatu dosa, bahkan untuk mendekatinya. Kekuatan jiwa inilah yang sangat penting kita semua miliki.

Kekuatan Jiwa

            Nabi Yusuf bisa keluar sebagai pemenang dari godaan Zulaikha itu karena jiwanya kuat. Ia sangat yakin pada pertolongan Allah. Ia yakin bahwa jika ia berbuat baik dengan menjaga dirinya, maka Allah akan selalu menjaganya. Walau dirinya harus mendekam dalam penjara bertahun-tahun, itu lebih disukainya ketimbang melakukan dosa yang mengundang laknat Allah SWT.

            Saat ini negeri kita sedang membutuhkan pribadi-pribadi yang kuat jiwanya. Kita semua tentu sudah sering mendengar kasus jatuhnya orang terhormat di masyarakat gara-gara wanita atau uang. Orang-orang yang kita percaya pun berkhianat kepada dirinya dan agamanya. Itu terjadi karena jiwa yang lemah. Jiwa seperti ini akan begitu mudah jatuh ketika berhadapan dengan godaan dan momentum yang memungkinkan untuk berbuat nista.

            Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan jiwa yang kuat? Jiwa seperti ini hanya dan hanya bisa terpatri dalam diri kita manakala kita dekat dengan Allah. Kedekatan kita kepada Allah berarti kita mau menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika kita ingin dekat kepada Allah, maka kita perlu memiliki cara pikir, cara pandang dan prilaku seperti yang diinginkan oleh Allah.

            Kekuatan jiwa seperti kuatnya jiwa Nabi Yusuf dalam menghadapi cobaan hanya bisa kita raih kalau kita senantiasa berzikir kepada Allah, memperbanyak amal shalih, berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan, dan selalu mengutamakan petunjuk dari Allah SWT.

            Dengan demikian, jika kita dekat kepada Allah maka kemenangan pasti akan kita raih di dunia bahkan di akhirat, insya Allah. Mari berkaca pada nabi Yusuf yang menjaga dirinya. Ia hendak dilenyapkan nyawanya, digoda oleh perempuan cantik dan punya kuasa, ia mendekam dalam penjara. Tapi itu semua membuatnya sabar, dan yakin bahwa skenario Allah pasti punya hikmahnya. Akhirnya, Nabi Yusuf pun keluar dari penjara, menjadi bendaharawan negara menggantikan suami Zulaikha.

            Karena rasa suka Nabi Yusuf kepada Zulaikha berhasil ia kelola dengan baik, ia jaga dirinya dari godaan setan terkutuk, maka beberapa tahun kemudian Yusuf akhirnya menikah dengan Zulaikha yang cantik dan menawan. Cinta yang dijaga karena Allah, akhirnya membuahkan surga. Nabi Yusuf bahagia karena menjaga dirinya. Allah pun memberikannya Zulaikha yang rupawan, ia juga berkumpul kembali dengan ayahnya dan saudara-saudaranya yang dulu pernah memusuhinya.

            Dalam surat Yusuf kita mengikuti sebuah cerita tentang seorang lelaki yang ditempa berbagai godaan akan tetapi tetap sabar dalam hidupnya. Kita semua tentu berharap mendapatkan kebaikan di dunia dengan di akhirat. Olehnya itu, maka menjaga diri dari dosa adalah program kita semua. Mari belajar dan mengikuti kekuatan jiwa nabi Yusuf agar kita bahagia! Fastaqim! (Beristiqamahlah)

YANUARDI SYUKUR

Moderator Mailing List (Milis) Darul Istiqamah dan Website darulistiqamah.multiply.com


 

 

           

 

 

           

 

             

 

           

 

 

       


Blog EntryPanduan Aktif Peserta Silnas FLP 2008May 27, '08 11:55 PM
for everyone

Panduan Aktif Peserta Silnas

Oleh Yanuardi Syukur

Silaturahmi Nasional (Silnas) FLP 2008 adalah pertemuan nasional aktivis FLP se-Indonesia (dan perwakilan mancanegara) yang kedua kalinya. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2002 di Kuningan Jakarta. Saat itu selain hadir perwakilan dari dalam dan luar negeri.

Silnas adalah momentum yang sangat bagus untuk dimanfaatkan membangun relasi, mencari informasi penerbit, promosi karya, bahkan sekedar untuk kenal-kenalan dengan sesama FLP’ers. Pada 2002, saya melihat antusiasme yang sangat dari peserta. Buku catatan yang dibagikan oleh panitia banyak digunakan untuk mencatat nama kenalan, meminta kata-kata motivasi menulis dari penulis yang sudah duluan tenar dan seterusnya.

Sangat disayangkan moment Silnas ini kalau tidak dimanfaatkan dengan baik (terutama untuk perwakilan FLP di daerah yang jarang-jarang ke Jakarta). Lantas, bagaimana cara menjadi peserta yang aktif di acara ini? Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk tidak melewatkan momentum berharga ini.

Pertama, catat setiap materi dengan baik. Materi yang disuguhkan kepada peserta kali ini adalah: Seminar Industri Kreatif, Seminar Optimalisasi Taman Baca, Seminar Menulis Fiksi, Pentas Seni, Diskusi Internal “Napak Tilas FLP”, Seminar Menulis Kreatif, Workshop Menulis Puisi, Seminar Menulis Non Fiksi, Seminar Menulis Skenario, Diskusi Internal “FLP Ke Depan”, dan Seminar Sastra “Sastra Hijau”.  Kalau saja semua materi ini kita ikuti dengan baik secara aktif, maka pasti banyak sekali pengetahuan baru kita dapat.

Semua materi baiknya kita catatat di buku catatan dengan baik. Kalaupun misalkan kita tidak terlalu concern pada bidang materi yang dipaparkan, baiknya kita tulis saja karena tulisan itu kelak pasti akan bermanfaat untuk anggota FLP lainnya. Misalnya kita lebih suka menulis cerpen, tapi kita kurang concern dalam puisi, pada materi puisi kita tulis paparan sang pematerinya. Nanti kalau pulang ke wilayah/cabang masing-masing setidaknya ada oleh-oleh ilmu yang kita bawa dari Jakarta.

Mengingat saja tampaknya nggak cukup. Alangkah banyak kutipan-kutipan berharga yang mungkin akan muncul dari lisan para pemateri. Ucapan yang keluar dari lisan mereka mungkin saat kita ikuti materinya tidak terlalu kita perhatikan, tapi kalau dicatat pasti ucapan itu ada manfaatnya nanti.

Contohnya, ucapan sastrawan Taufiq Ismail, “FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia” kemungkinan kata-kata ini banyak dikutip pada diskusi, makalah atau penelitian tentang FLP. Itu karena diucapkan oleh sastrawan besar. Tapi ingatkah kita kapan kata-kata itu diucapkan? Ternyata diucapkan pada Milad dan Silnas FLP tahun 2002 di Kuningan Jakarta. Saya masih ingat benar bagaimana intonasi Pak Taufik yang dalam. Ada kesungguhan yang terlontar dari kata-katanya, seperti juga ada cita rasa penghayatan yang dalam saat KH. Rahmat Abdullah membacakan do’a pada moment itu.

 Jadi, jangan lewatkan setiap materi yang telah disiapkan panitia. Menuliskan materi, kutipan-kutipan penting itu sangat membantu kita kelak dalam merumuskan sejarah FLP kelak.

Kedua, catat alamat teman dengan baik. Pada Silnas 2002 kebetulan saya dekat dengan perwakilan FLP NAD (Cut Januarita, Yanni dan Mutia Maida). Setelah Silnas kami berhubungan secara intens. Cut Jan (ketua FLP Aceh ketika itu) biasa mengirimkan tulisannya ke Makassar, juga sebaliknya. Kita biasa sharing informasi dan pengalaman. Begitu juga dengan Mutia Maida. Karena saya mencatat alamat mereka dengan jelas jadi saya tidak kehilangan kontak dengan mereka. Beberapa waktu sebelum Tsunami menerjang Aceh yang mengakibatkan Mutia meninggal, saya juga masih sering komunikasi via email.

Mencatat alamat teman, kalau bisa jangan cuma yang biasa-biasa saja. Coba minta ke teman kita untuk tulis pengalaman menulisnya, proses kreatifnya dalam menulis, buku pertamanya, suka duka dalam menulis, atau sekedar pesan motivasi untuk kita. Pada moment Silnas pertama saya mencatat beberapa kata-kata motivasi yang ditulis di buku catatan saya yang sampai sekarang agak membekas, “Menulis itu berjuang!”, “Menulislah dengan jiwa”. Dua kata ini biasa sampaikan kembali kepada teman-teman anggota FLP bahwa di FLP kita menulis untuk berjuang mencerahkan pemikiran orang, mengantarkan orang dari tidak kenal Tuhan menjadi muslim yang baik juga untuk yang malas shalat menjadi ahli ibadah. Selain itu, saya juga sampaikan kepada teman-teman (terutama anggota baru), kalau ingin menjadi penulis yang torehan kata-katanya sampai ke hati pembaca, maka tulislah dengan jiwa, dengan hati yang benar-benar ingin melihat pembaca kita cerah jiwanya. Maka dari itu, hati yang bersih ternyata turut menentukan apakah karya kita masuk ke hati pembaca atau tidak.

Tulis alamat teman, kutipan dan apa saja yang menarik. Kalau perlu minta tanda tangan mereka, pelajari kenapa tanda tangannya begini, bandingkan antara penulis satu dengan yang lainnya. Dari situ, coba ambil kesimpulan yang motivatif.

Ketiga, abadikan dengan kamera. Rata-rata kalau kita jalan-jalan (termasuk di Silnas ini) kita selalu ingin mengabadikan dengan foto. Kalau ada waktu bagus sekali kita foto-foto dengan penulis lain yang lebih tenar. Saya dulunya tidak suka sekali menulis, tapi pas ikutan acara FLP, berfoto dengan beberapa aktivis FLP bahkan beberapa sastrawan yang namanya sering saya baca di buku membuat saya semakin bersemangat untuk menulis dan mengembangkan FLP.

Buatlah foto yang bagus kualitasnya. Sepulang kita dari wilayah masing-masing, pasti teman-teman kita yang tidak ikutan Silnas akan minta oleh-oleh. Beberapa waktu setelah pulang Silnas ada beberapa fansnya Mbak Helvy yang ingin sekali dapat fotonya. Mereka anak SMA yang katanya juga suka menulis. Saat saya perlihatkan foto Mbak Helvy di Silnas mereka jadi ingin sekali jadi penulis.

Foto bersama penulis (jika sempat) ternyata punya efek positif. Teman-teman kita di daerah semakin bersemangat untuk menulis setelah melihat bahwa, “Oh, ternyata penulis-penulis yang bukunya sering kita baca dan karya mereka dipajang di toko buku itu adalah teman kita juga, berarti kita bisa belajar dari mereka, dan kayaknya mereka terbuka untuk sharing pengalamannya dengan kita, kalau begitu saya aktif teruslah di FLP, siapa tahu bisa buat karya seperti mereka.”

Moment-moment penting seperti diskusi, ataukah kunjungan ke beberapa tempat menarik perlu kita abadikan. Suatu saat nanti pasti semua kenangan dalam foto itu akan memberikan efek positif bagi diri kita.

Keempat, Bertanya. Saat diskusi atau seminar, kalau bisa jangan duduk-duduk sajalah bisanya. Kalau bisa berkomentarlah tentang apa yang kamu sukai, atau pengalaman kamu yang bisa dipetik hikmahnya oleh peserta lain. Bertanya ternyata susah juga kalau tidak dibiasakan. Kalaupun sudah dibiasakan, bertanya yang singkat, padat, jelas, berisi juga butuh teknik.

Olehnya itu, untuk aktif bertanya di forum ada baiknya kita sudah susun apa kerangka pertanyaannya. Tentunya kita semua pasti pernah kesel sama penanya yang lama sekali bertanya dan pertanyaannya juga berputar-putar kesana kemari. Kita semua pasti tidak ingin menjadi aktif tapi menimbulkan rasa kesel di hati peserta lain, karena kita terlalu tidak efektif dalam bertanya sedangkan waktu yang ada sangat sedikit.

Bertanya di forum itu perlu untuk melatih keberanian. Selain di forum ada baiknya kalau kita juga aktif bertanya, cerita, sharing dengan teman-teman penulis yang sudah duluan produktif. Ada tipe penulis terkenal yang memang pendiam. Nah, kita harus punya jurus bagaimana membuatnya berbagai pengalaman dengan kita. Tentunya teknik komunikasi efektif perlu kita pelajari untuk menggaet banyak-banyak pengalaman dari penulis terkenal.

Kelima, tulis berita Silnas ini dan kirim ke surat kabar di daerah setempat. FLP saat ini sudah dikenal di banyak kalangan. Berita tentang kegiatan FLP (apalagi skalanya nasional) menarik untuk dimuat di media massa. Sebelum pulang ke kampong masing-masing, ada baiknya kita buatkan tulisan tentang kegiatan ini dan kirim ke koran daerah. Dilengkapi dengan foto kegiatan agaknya menarik untuk dimuat di koran.

Dengan dimuatnya tulisan kita di koran daerah setidaknya sosialisasi FLP sebagai lembaga dakwah lewat jalur menulis akan tersebar luas. Akhirnya pembaca akan menyadari bahwa sebagai penulis kita harus punya idealisme, dan sebagai muslim kita perlu mendasarkan idealisme kita pada nilai-nilai normatif dalam agama kita. Selain itu tentunya dengan tersebarnya kegiatan ini akan membawa nilai lebih kepada FLP kita di daerah. Setidaknya akan bermunculan lagi orang yang tertarik pada FLP, bahkan bisa menjadi donatur (sekiranya FLP setempat kekurangan dana).

Keenam, buat target selesaikan naskah buku. Tujuan kita bergabung di FLP biasanya karena ingin jadi penulis ataukah untuk belajar berorganisasi. Sebelum pulang ke kampong masing-masing bagus juga kalau bersama delegasi wilayah/cabang masing-masing kita diskusikan kapan target membuat buku wilayah/cabang. Artinya selagi semangat kita masih hangat di sini ada baiknya segera kita buat planning. Karena biasanya kalau sudah pulang di kampung masing-masing semangat kita biasanya akan mengendor sedikit.

Selain target buku wilayah/cabang, bagus juga kalau kita (bersama penulis dari wilayah/cabang lain) membuat proyek buku bareng: apakah berdua, bertiga dan seterusnya. Artinya untuk membuat buku barengan kita sudah bisa merancangnya sejak moment ini.

Keenam masukan dalam tulisan ini ditulis atas pengalaman mengikuti Silnas 2002 dan Munas 2005 di Kaliurang Jogja. Pokoknya, sebisa mungkin lewat kegiatan ini kita hasilkan out put yang positif. Semoga ada manfaatnya buat kita semua, terlebih buat teman-teman sesama delegasi FLP dari daerah. Terima kasih. ***  

                                            Makassar, 28 Mei 2008

  • Ketua FLP Maluku Utara, mantan ketua FLP Sulawesi Selatan.

yankoer.multiply.com


Blog EntryIkut-IkutanMay 15, '08 10:54 PM
for everyone
Waktu masih baru-barunya La Tahzan, banyak yang serasa kuper kalo tidak membacanya. Waktu Ayat-Ayat Cinta booming banyak jg yang merasa kurang gaul kalo belum punya, minimal pernah lihat bukunya. Pas ada Laskar Pelangi, orang-orang juga penasaran dan sepertinya tidak gaul rasanya kalau tidak membaca buku itu.

Kita menjadi ikut-ikutan oleh karena media membuat seperti itu. Dalam kaver buku kita lihat, latar sang penulis dibesar-besarkan, tentu saja itu lumrah untuk menggaet pasar. Tapi sikap kita yang ikut-ikutan perlu menjadi perhatian. Jangan sampai kita membaca sebuah karya karena kita merasa malu karena temen kita sudah baca.

Mungkin ada baiknya, kita cari bacaan yang paling kita suka, temanya pas dengan jiwa kita. Setelah itu kita apresiasi, kalau perlu kita buatkan resensi atau tulisan tentang buku itu. Itu agar bacaan kita juga tidak sia-sia.

Ikut-ikutan tertarik itu ada baiknya, sebenarnya, namun tertarik karena merasa tidak gaul atau kurang trendy juga kurang pas bagi seorang pembaca.

Blog EntryMemilih BacaanMay 15, '08 3:32 AM
for everyone
Banyak sekali buku bertebaran di toko buku. Saat lagi baca, tiba-tiba kita melihat buku lain, kita tertarik, dan rasa-rasanya kita ingin membeli atau membaca semua buku yang menarik di situ!

Banyak membaca itu bagus, dan sangat dianjurkan memang, namun untuk mencapai satu fokus tertentu--misalkan target deadline tulisan/buku--kita perlu fokuskan pada bacaan yang relevan saja dengan tema yang mau kita garap.

Untuk fokus menulis, baiknya kita batasi pada hal-hal yang pas dengan tujuan tulisan kita. Itu agar nantinya tulisan kita tidak kemana-mana larinya, fokus ke satu tujuan!



Blog EntrySemakin BeratMay 2, '08 9:25 AM
for everyone
Semakin hari, semakin berat terasa.
Kita berjalan, dan terus berjalan dalam ruangan yang kita buat sendiri.
Kita merasa itulah yang terbaik, tapi tampaknya itu masih belum yang terbaik di mata kebaikan.

Semakin hari, semakin berat hati kita bawa.
Kita membawanya, berlari, menyusuri setapak demi setapak hanya untuk menemukan dimanakah kesejatian berada.
Kita pun hanya terbentur pada dua konsekuensi logis:
terus melangkah atau berhenti sejenak

Semakin hari, godaan, cobaan selalu datang melanda.
Saat kita punya keinginan yang teramat sangat untuk melangkah, memperbaharui sesuatu yang ada, kita pun digoda oleh masa lalu untuk kembali ke sana. Padahal kita telah bertekad untuk melangkah, melangkah dan melaju terus, tidak melihat kebelakang

Nuh, engkaulah nabi yang berani. Ibrahim, engkaulah nabi yang berani berkata benar.
Adakah aku bisa sepertimu?

Semakin hari, semakin berat amanah ini kita rasa. Kita pun seperti mau memutuskan untuk berhenti, tapi sejarah selalu memperingatkan kepada kita untuk terus melangkah. Kita pun melangkah, walau sobek sobek pakaian kita, walau kesulitan demi kesulitan melanda. Kita harus tetap berjalan!

Semakin hari, semakin berat kita rasa. Tapi, kekuatan jiwa kita selalu memanggil-manggil untuk menjaga semangat. Ya, kita punya semangat! Ya, walau kita pernah salah, karena kita juga manusia, kita ingin berubah, berubah dan melangkah ke masa depan.

Semakin hari, godaan demi godaan selalu datang. Godaan tepuk tangan dari hadirin, godaan untuk dipuji, untuk didendangkan, untuk disebut-sebut dalam forum, untuk ditulis dalam memoar, atau untuk diingat oleh orang lain. Kita pun tergoda untuk terperangkap dalam kubangan itu.

Tapi, kita harus kembali. Ya, kita harus kembali bangkit! Jangan terlena dengan keadaan, kita lah pemenang! Kitalah pemenang!

Blog EntryPuteri KeduaApr 30, '08 2:59 AM
for everyone
Saat kita berada di situasi yang boleh dikata "kritis" biasanya ada perasaan tertentu yang begitu kuat, dan benar.

Sepulang Isya di masjid, saya berjalan. Di luar bintang bertaburan--baru kali ini saya melihat indahnya bintang dalam beberapa minggu terakhir. Berjalan, kemudian tak jauh dari saya ada sebuah benda jatuh. Saya menoleh ke belakang, ternyata sebuah kelapa kecil, hijau, bagus, yang jatuh.

Saya berpikir, apa maksudnya ya?
Saya bawa kelapa kecil itu.

Kurang lebih sejam sebelum itu, saya baca Qur'an di rumah bakda Maghrib, dan saya sampai di surat Al-Isra yang salah satu ayatnya menceritakan tentang "wabil waalidaini ihsaana" (dan kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah). Ayat yang menceritakan bahwa kita harus berani memiliki anak, jangan takut tidak bisa memberikan mereka makan.

Menuju rumah, di depan rumah saya letakkan kelapa kecil itu--kecilnya seperti huruf O jika ujung Jempol dan Telunjuk disatukan.

Tak berapa lama kemudian istri saya merasakan bahwa lama kelamaan beberapa bagian tubuhnya sakit. (Mungkin mau melahirkan, kata saya)

Akhirnya ke Rumah Bersalin, jam 10.30. Pada jam 12.08, alhamdulillah anak kami lahir. Perempuan. Anak kedua. Yang pertama, perempuan juga setahun 6 bulan lalu.

.....

Pada saat "kritis" biasanya kekuatan perasaan kita begitu kuat. Kita merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Gabungan dari ayat Al-Qur'an yang kita baca, ditambah dengan kondisi alam yang melingkupi serta perasaan-perasaan kita menandakan sebuah kejadian akan terjadi.

Blog EntryYang Tersisa Dari Pak JabbarApr 25, '08 1:20 AM
for everyone
        Saya tidak tahu kapan akan bertemu dia lagi karena dia kini telah tiada.
       
        Dia bukan dari golongan orang terkenal, bukan juga dari yang berada, tapi setidaknya dia punya kepedulian yang besar "menghantarkan" orang lain menuju gerbang surga.
        Kami mengenal namanya dengan Pak Jabbar. Dia asli Flores, Nusa Tenggara Timur. Awalnya, dia adalah seorang Kristen, kemudian masuk Islam dan berhijrah ke tanah Makassar. Orang-orang NTT juga NTB rupanya cukup banyak yang tinggal di Makassar. Menurut sejarah, kerajaan Makassar dulu pernah sampai menjangkau ke Nusa Tenggara Barat.
        Saya baru saja mengenal Pak Jabbar. Tapi pengenalan lebih jauh saya dapatkan setelah menghadiri pemakaman KH. Ahmad Marzuki Hasan di dalam komplek Pesantren Darul Istiqamah. Kita ngobrol lebih dari sejam dalam keadaan berdiri dan duduk. Dia cukup betah kalau ngobrol dengan orang lain.
        Entah sudah berapa banyak dia gali kuburan. Puluhan mungkin. Saya tanya, "ndak takutki pak Jabbar pas gali kuburan?"
        Dia jawab, "tidakji".
        Tidak ada perasaan takutnya. Dia pernah bercerita, bahwa di kampungnya dulu sering orang baku bunuh, jadi dia tidak takut.
        Yang menarik dari Pak Jabbar adalah keikhlasannya untuk menggali kuburan. Saya pernah tanya berapa penghasilannya dari kerja itu? Dia jawab, kadang-kadang ada kadang juga tidak ada. Tapi, dia syukuri itu semua. Yang lebih penting baginya adalah dia telah masuk Islam, tinggal dalam lingkungan pesantren dan bisa beramal untuk dakwah.
        Kata-katanya menarik, lugu sekaligus orisinil. Pertama kali datang ke Makassar, dia punya hajat terhadap suatu barang, dia bertanya, "saya mau beli itu yang saya lihat dia dan dia lihat saya."
        Orang yang ditanya kaget. Apa ya? Oh, ternyata yang dia maksud adalah CERMIN.
        Di lain waktu, karena banyak nyamuk mungkin, dia ingin membeli suatu barang yang bisa menjadikannya aman dari nyamuk. Dia tanya ke temannya, "saya mau beli itu yang digantung sini gantung sana, saya di dalam nyamuk di luar."
        Yang ditanya mencari-cari apa maksudnya. Oh, ternyata KELAMBU.
    ....
        Pak Jabbar orangnya baik. Setidaknya, karena di suatu pagi dia pernah bantu2 saya melempar mangga di sekitar komplek SD Darul Istiqamah, kebetulan dia yang menjaga SD dan beberapa pohon mangga di situ.
        Waktu saya bercerita dengannya, setelah pemakaman KH. Marzuki Hasan, dia bilang kalau lidahnya sakit. Saya memberikan masukan kepadanya untuk berobat tradisional. Dia bilang, sudah coba. Untuk berobat di dokter, dia bilang dokter juga tidak mau mengobatinya karena agak parah lidahnya. Seperti ada tumor.
        Kurang lebih 8 bulan saya tidak ketemu beliau. Hingga pada suatu malam datang kabar pada kami bahwa Pak Jabbar telah dipanggil Allah pada suatu senja.
         Saya tidak tahu kapan bisa bertemu Pak Jabbar lagi. Saya ingin banyak belajar darinya, belajar tentang keaslian, jauh dari prasangka, jauh dari tipu daya, jauh dari konspirasi, dan keluguan manusia.
        Semoga amalan kebaikan yang telah diperbuatnya di dunia, menjaga sekolah, menjaga mangga-mangga, membersihkan halaman sekolah, membesarkan anak-anaknya, mengislamkan dirinya, menjadi amalan jariyah untuknya yang pahalanya senantiasa mengalir walau dia telah ditimbun di tanah Flores sana. Innallillahi wa inna ilahi rojiun...
   
   

Blog Entry....Karena Kata Adalah Senjata!Apr 4, '08 2:11 AM
for everyone

(4)

…Karena Kata Adalah Senjata!

 

         SAYYID QUTHB, sastrawan dari Mesir itu pernah menulis sebuah makalah singkat namun penuh tenaga dalam bukunya, Beberapa Studi Tentang Islam[1]. Tulisan itu ia beri judul menarik, Kekuatan Kata-Kata. Di halaman 177, beliau menulis seperti ini:

         “...Para penulis sebenarnya bisa berbuat banyak. Tetapi ada satu syaratnya: mereka harus mati agar pikirannya dapat hidup. Pikiran mereka itu harus diberi makan dengan daging dan darah mereka sendiri. Mereka harus mengatakan apa yang mereka percayai benar, dan mereka mau menyerahkan darah mereka sebagai tebusan dari kebenaran itu. Pikiran dan kata-kata tetap akan merupakan mayat yang kaku, sampai kita mau mati untuk kepentingannya dan kita sirami ia dengan darah kita. Lalu ia tumbuh menjadi hidup, dan hidup di antara orang-orang yang hidup.”

         Sejenak melihat dan mentafakkuri apa yang dikatakan Quthb di atas akan membekas sebuah kata penting dalam kepala kita: berjuang! Dalam perspektif dakwah dengan pena, kita bisa menyebutnya dengan “Berjuang dengan Pena” atau “Berjihad dengan Pena.”

         Jihad dengan kekuatan pena menurut Quthb tak bisa kita lepaskan dengan hati yang tulus ikhlas dengan keyakinan yang paripurna terhadap apa yang akan kita tulis. Kata-kata beliau “...Mereka (para penulis) harus mengatakan apa-apa yang mereka percayai benar” bermakna bahwa apa yang kita tulis haruslah apa yang kita yakini benar dalam hati. Itu karena sampai tidaknya pesan dakwah yang kita sampaikan lewat tulisan turut pula ditentukan oleh seberapa kuat keyakinan, semangat dan kejernihan ruhiyah yang dimiliki oleh seorang penulis agar kata-katanya nanti akan melahirkan permata-permata indah yang siap diambil dan dijadikan harta berharga oleh para pembaca.

         “Karena kata adalah senjata!” Kata ini erat kaitannya dengan kalimat as-Syahid di atas. Untuk menjadi pejuang dakwah dengan pena kita benar-benar dan harus menganggap bahwa menulis adalah salah satu profesi kita sebagai pejuang, sebagai mujahidin ilallaah. Jika di masa perang fisik dulu para pahlawan kita menggunakan bambu runcing, senjata otomatis, bom rakitan yang diisi dengan paku, beling dan pupuk, dengan peluru tajam atau sesekali (jika berhasil merampas) dengan meriam canggih, maka saat ini kita menulis sebenarnya juga melanjutkan pekerjaan membebaskan umat ini dari penjajahan namun bersenjatakan pena.

         Menulis adalah berjuang dengan kata-kata yang bertenaga sebagai senjata dan hati yang lembut tulus dan ikhlas sebagai amunisinya. Senjata yang bertenaga berarti senjata itu bukan senjata biasa, bukan senjata sekali ditembakkan langsung rusak, tak bisa dipakai, akan tetapi senjata itu penuh dengan kekuatan yang membuatnya senantiasa tidak capek dalam menembak. Sedangkan hati yang lembut adalah amunisi, peluru yang akan terbang bebas, tidak ada beban, dan fokus pada sasaran. Ketika peluru hati itu telah sampai di sasarannya, maka serta merta orang yang punya hati tulus ikhlas pasti akan tertarik, simpatik dan malah akan mendukung para mujaahid bilqalam dalam peperangan ini.

         Menulis adalah berjuang untuk membawa umat manusia yang saat ini sedang berada dalam jahiliyah modern, yang berada dalam zhulumaat (kegelapan) menuju jalan kebenaran yang penuh dengan nur (cahaya) dan ridha Allah Yang Maha Kuasa.

         Mungkin ada yang akan bertanya, ”Sebenarnya, apa pentingnya menulis?”

         Orang-orang yang tidak (atau belum) tahu menulis adakalanya berpikir bahwa menulis itu kurang efektif dalam berdakwah. Akibatnya, golongan ini lebih menitikberatkan dakwahnya kepada perbuatan saja, kepada dakwah bilhaal saja.

         Di antara pejuang Islam yang tidak (atau belum) bergabung dalam kafilah dakwah dengan mata pena ada yang meyakini bahwa mereka—walau ilmunya telah cukup—merasa belum saatnya untuk tampil dalam dakwah lewat jalur ini. Mereka mau sebenarnya, akan tetapi mereka terjebak pada sebuah masa dimana mereka menunggu momentum yang tepat ketika kedewasaan, kebijaksanaan, hikmah telah mereka miliki untuk kemudian mentransformasikan ide-idenya ke dalam hati para pembaca.

         Golongan ketiga, adalah yang berpikir bahwa menulis itu adalah bagian dari pekerjaan perjuangan yang begitu panjang. Hati dan akal mereka telah paham dan sadar bahwa dewasa ini dunia kita berada dalam kendali para musuh Islam. Mereka menuliskan pemahaman yang salah tentang Islam, mendiskreditkan Islam, memfitnah para pejuang Islam dengan label ”teroris”, ”fundamentalis”, ”radikal”, ”ekstrimis”, atau ”militan.” Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mereka harus bergerak karena mereka mujahid, mereka mau tidak mau harus berani turun ke gelanggang walau sendirian dan memilih untuk fight, bertarung dengan para raksasa materialisme yang mendominasi dunia.

         Jika kita kembali ke tradisi ulama klasik, mungkin di antara mereka ada yang masuk dalam tiga ketegorisasi ini. Akan tetapi jika kita pikir-pikir dari tiga kategori ini golongan yang paling panjang ”umur” kehidupannya adalah golongan ketiga. Mereka memang telah tiada, tapi karya-karya mereka sampai sekarang masih tetap ada, dicetak ratusan bahkan ribuan eksemplar dalam berbagai bahasa umat manusia. ”Umur” karya mereka lebih menjadi lebih abadi ketimbang hanya ceramah di hadapan umat. Begitulah pentingnya dakwah dengan pena.

         Olehnya itu, tidak ada salahnya lewat tulisan singkat ini, marilah kita berjuang lewat tulisan! Berdakwah lewat hati, kepala, jemari, kata-kata (senjata kita) dan tinta-tinta kita!

         Karena kata adalah senjata, maka marilah kita sanggul senjata itu dan tembakkan kepada sasaran dengan jitu. Ya! karena kata adalah benar-benar senjata untuk melumpuhkan arogansi lawan, maka marilah kita borong senjata-senjata itu untuk memenangkan pertarungan sengit antara kebenaran dan kebatilan ini. Karena kata adalah senjata, maka bagi sesiapa yang nuraninya masih menyala, akalnya masih sehat, kemampuannya masih ada, marilah kita berjuang! *** Yanuardi Syukur.



[1] Diterbitkan oleh Penerbit Media Dakwah, Jakarta.


Blog EntryLima Peran Penulis MuslimApr 4, '08 2:08 AM
for everyone

Lima Peran Penulis Muslim

 

            ADA lima peranan yang harus diemban oleh penulis muslim. Kelima peran ini awalnya disebut sebagai peran “Jurnalis Muslim” yang image-nya lebih dekat kepada pekerja media massa. Dalam tulisan ini bolehlah kita ambil kelima peran itu sebagai peranan yang harus dimainkan oleh seluruh penulis muslim.

 

1.      Sebagai Pendidik (mu’addib)

 

            Penulis muslim adalah pendidik, murobbi, ia menjalankan fungsi edukasi dalam Islam. Karena ia pendidikn, maka tentu ia harus lebih menguasai terlebih dahulu ajaran Islam dari perkara akidah, syariah hingga muamalah sebelum mentransformasikan ilmunya kepada masyarakat.

            Sebagai pendidik penulis muslim menjalankan fungsi yang mulia. Oleh karen mendidik adalah pekerjaan yang membutuhkan kecermatan, strategi, kecerdasan tersendiri, dan kesabaran.

            Kenapa kita harus menjadi pendidik? Jawabannya, marilah kita lihat bacaan remaja kita saat ini. Rata-rata dari mereka lebih senang membaca buku-buku yang sifatnya kurang bermanfaat bahkan menyimpang dari ajaran Islam, padahal mereka orang Islam dan penulis buku itu juga Islam. Sebagai pendidik, kita harus melihat potret yang tidak menyenangkan ini dengan menawarkan bacaan-bacaan yang edukatif, yang mendidik yang masuk dalam akal mereka.

           

2.      Sebagai Pelurus Informasi (musaddid)

           

            Kenapa harus diluruskan? Dari kalimat ini kita bisa mengambil kesimpulan: berarti ada yang bengkok. Apa saja variabel yang perlu kita luruskan sebagai seorang musaddid?

            Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh penulis muslim: Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam, Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam dan Ketiga, menggali kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia

            Peranan sebagai musaddid sangatlah penting karena banyak informasi yang kita baca ternyata salah. Informasi ini dihembuskan oleh pada orientalis yang sengaja merusak citra Islam, anak-anak muda yang sedang “puber intelektual” atau orang-orang bodoh yang mengutip pendapat yang salah kemudian disampaikan kepada masyarakat.

            Para penulis muslim yang profesinya sebagai musaddid cukup banyak di negeri kita. Prof.H.Muhammad Rasyidi misalkan, beliau dikenal sangat gencar dalam mengkritik pemikiran Cak Nur (Nurcholish Madjid) atau pemikiran yang akhir-akhir ini kita kenal dinamakan SEPILIS (Sekularisme—Pluralisme—Liberalisme). Hartono Ahmad Jaiz, Adian Husaini, Luthfi Bashori, Muhammad Amin Jamaluddin, Anis Malik Thoha, Daud Rasyid, Irfan S. Awwas, Fauzan Al-Anshari serta Muhammad Thalib adalah beberapa nama yang tulisan-tulisannya gencar “membabat” pemikiran kaum SEPILIS.

            Seorang ustadz pernah berkata perihal bagaimana menghadapi pemikiran liberal, “Jika kaum SEPILIS menulis satu buku, maka kita harus menulis 10 buku untuk meng-counter tulisan itu!”

            Penulis muslim, seyogyanya memang harus meluruskan informasi yang salah tentang Islam, baik yang datang dari orang Islam sendiri ataukah orang di luar Islam. Namun terkadang dalam beberapa kasus ada juga non muslim yang mengkritik pendapat yang disalahtafirkan di dunia barat. Karen Armstrong adalah satu dari kelompok itu. Dalam bukunya Islam: A Short History, Armstrong melancarkan kritikan kepada penulis barat yang tidak objektif,

            ”Di Barat, jumlah istri Muhammad seringkali dianggap sebagai kecabulan, tetapi merupakan suatu kesalahan jika membayangkan bahwa nabi bersenang-senang dalam gairah seksual, seperti beberapa pemimpin Islam selanjutnya. Di Mekkah, Muhammad masih monogami, hanya menikah dengan Khadijah, walaupun poligami sudah biasa di Arab. Khadijah jauh lebih tua, tetapi melahirkan setidaknya enam anaknya yang kemudian cuma empat anak perempuan yang bertahan hidup.”

         &nb