Wajah Masjid, Wajah Umat Islam
MASJID adalah tempat kita bersujud, tempat beribadah umat Islam yang sangat penting. Di dalam masjid umat Islam menengadahkan jiwa raganya dengan ketundukan yang paripurna kepada Allah Swt. Di masjid umat Islam berjanji dengan tulus untuk benar-benar mengamalkan kalimat tauhid bahwa “Tak ada yang kita sembah, tak ada yang kita takuti, tak ada yang kita tinggikan kecuali Allah semata.” La Ilaha Illallah…
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan,” ini adalah janji kita yang sering kita baca tiap shalat untuk senantiasa menyerahkan segala sesuatu kepada Allah agar hidup kita bahagia.
Masjid di jaman nabi dulu masih sangat sederhana bentuknya. Ketika Islam berkembang, umat Islam pun ramai membangun masjid dengan arsitektur yang paling mutakhir. Di Indonesia, kita bisa saksikan banyak sekali masjid dengan ciri yang sangat khas—gabungan dari banyak komponen dan filosofi yang dalam. Umat Islam pun begitu bersemangat untuk membangun, memoles masjid-masjidnya dengan polesan yang paling indah, dengan kaligrafi, ornamen-ornamen, ukiran-ukiran yang paling modern.
Namun jika kita perhatikan secara jeli, ada yang sadar atau tidak sadar dilupakan oleh umat Islam. Megahnya bangunan masjid tidak sepadan dengan megahnya “jiwa masjid” itu sendiri. Betapa banyak dari umat kita yang begitu sibuk untuk membangun fisik masjid seelok mungkin, tapi lupa untuk membangun seelok mungkin jiwa umat Islam di sekitar masjid tersebut.
Wajah umat Islam, setidaknya bisa kita lihat wajah masjid. Jika masjidnya megah, berarti itulah wajah umat Islam yang suka bermegah-megahan. Jika masjidnya sederhana, itu juga wajah umat Islam yang ada di sekitar masjid itu. Jika masjidnya ramai dengan kegiatan maka itulah wajah kualitas umat Islam, begitu juga jika masjidnya sepi, hanya ramai pada kegiatan seremonial atau ibadah shalat Jum’at saja.
Jika kita lihat secara jernih fakta di lapangan, dapatlah kita kondisi umat yang jahil terhadap ajaran Islam. Umat kita begitu banyak yang masih jahil akan ajaran Rasulullah Saw yang mulia. Masjid mereka begitu bagus, akan tetapi jiwa mereka kosong dari nilai-nilai keislaman. Setidaknya kejahilan ini bisa kita lihat dari aplikasi shalat berjama’ah. Pembinaan anak-anak menjadi terlupakan oleh karena kesibukan mencari dunia. Pengajian untuk menambah tsaqafah Islamiyah juga sangat jarang kita lihat. Majelis-majelis yang didirikan sebagai sarana untuk saling menasehati dan memperkuat diri dalam berislam juga terkadang lebih banyak membicarakan masalah dunia ketimbang bagaimana memperbaiki diri dan masyarakat yang sedang sakit.
Wajah Islam bisa kita lihat dari masjid. Jika masjid kita sering kosong dari jamaah, berarti itulah wajah dan kekuatan masjid. Seorang ulama pernah berkata yang maknanya seperti ini, “Jika mau melihat seberapa kuat umat Islam, lihatlah berapa banyak yang shalat Subuh berjamaah di masjid.”
Ya, lihatlah berapa banyak yang shalat Subuh di masjid. Rata-rata setiap subuh tidak lebih dari 2 shaf kita saksikan. Padahal saat shalat Jumat jamaah kita bisa lebih dari 6 shaf ke belakang. Saat shalat tarawih hari pertama jamaahnya banyak sekali. Akan tetapi di hari-hari terakhir Ramadhan justru fenomena ini menjadi berkurang, bahkan nyaris hilang.
Bangkit Dari Masjid
Kebangkitan umat Islam selalu berkaitan dengan kebangkitan masjid. Rasulullah membangun umat Islam juga dari Masjid Quba. Di masjid itulah beliau membina karakter jiwa umat Islam untuk benar-benar menjalankan syariat Islam yang mulia. Olehnya itu untuk membangkitkan umat Islam yang sedang terlelap, tertidur pulas, maka kita harus memulainya dari masjid juga.
Pertama, aktifkan majelis pengajian. Pengajian adalah inti dari masjid selain ibadah shalat. Di jaman Rasul, para sahabat biasa bertanya masalah keseharian mereka kepada Rasul di masjid. Masjid menjadi tempat kajian yang paling aman, nyaman, mencerahkan dan mencerdaskan.
Problemnya sekarang memang masih jarang para pengurus masjid yang bisa memberikan materi pengajian. Akan tetapi, sebenarnya hal ini bisa ditaktisi dengan metode pembacaan kisah-kisah hikmah, tafsir al-Qur’an, hadits atau buku karangan ulama setelah shalat. Tak usahlah hal ini dilakukan 5 kali sehari, cukup kita mulai setelah Maghrib saja ketika banyak jamaah di masjid.
Dengan pembacaan materi ini, lambat laun pengetahuan umat akan semakin bertambah, semakin luas dan semakin pintar. Ya, umat Islam harus pintar! Karena Islam memang diturunkan untuk dipikirkan, direnungkan dan diaplikasikan untuk kemaslahatan diri dan umat manusia.
Kedua, bangkitkan ekonomi umat. Salah satu masalah umat adalah kemiskinan. Kemiskinan bukanlah ajaran Islam. Islam menyuruh kita untuk menjadi mampu, mandiri, bahkan menjadi orang kaya. Ekonomi umat bisa dibangun lewat koperasi masjid semacam Baitul Mal Wattamwil (BMT). Di sini, BMT memberikan pinjaman, modal kepada masyarakat untuk berusaha dengan sistem yang memudahkan.
Ekonomi masjid perlu kita galakkan agar umat bisa lebih maju dari segi agama dan dunia. Artinya bahwa dengan kebangkitan ekonomi ini, umat akan lebih kreatif, bermental keras, berusaha, dan tidak cepat menyerah.
Ketiga, perkuat silaturrahim. Banyak juga dari umat kita yang mau mementingkan dirinya sendiri. Masjid seharusnya menjadi unsur perekat umat Islam. Masjid haruslah menjadi tempat silaturrahim yang sangat baik dan solutif untuk kebangkitan umat.
Dari masjid, silaturrahim antar umat perlu kita mulai. Karena di masjid biasa hati-hati kita lebih cenderung damai, jauh dari prasangka, iri hati dan kebencian. Jika silaturrahim ini kita kuatkan, maka dengan ijin Allah Swt kekuatan umat akan menjelma. Umat Islam akan benar-benar menjadi ”khairu ummah” (umat terbaik) yang “ukhrijat linnas” (yang diturunkan Allah kepada umat manusia).
Tiga solusi untuk kebangkitan masjid ini perlu kita renungkan bersama untuk kebangkitan umat. Umat kita saat ini sedang sakit, banyak yang masih jahil dengan ajaran Islam. Olehnya itu, dari masjidlah kejahilan itu akan kita hapus. Dari masjidlah kefakiran, kemiskinan akan dituntaskan. Jika wajah masjid kita masih begitu-begitu saja, maka wajar saja jika pengetahuan masyarakat kita juga biasa-biasa saja. Anak-anak kita, generasi kita semakin lemah, jahil akan Islam, dan mudah terbawa oleh arus kehidupan yang melenakan. Wallahu a’lam bisshawab. Fastaqim!
YANUARDI SYUKUR, S.Sos.