dimanapun kamu ditanam, berkembanglah

Blog EntryApakah Dakwah Bilqalam Itu?Apr 4, '08 2:02 AM
for everyone

(1)

Apakah Dakwah Bilqalam Itu?

 

   PIDATO, ceramah, taushiyah, atau sekedar apapun dakwah dengan menggunakan lisan punya peranan yang penting. Namun demikian bukan berarti bahwa dakwah billisan hanyalah satu-satunya cara dalam berdakwah. Masih ada dakwah bilhaal atau berdakwah dengan perbuatan dan dakwah bilqalam, dengan pena.

   Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita lihat definisi dakwah serta al-Qalam.

   Dakwah berasal dari Bahasa Arab ”da’a-yad’u-da’wah” yang berarti menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu.[1]

   Beberapa pakar mendefisinikan dakwah sebagai berikut:

·           Al-Khuli: ”Memindahkan umat dari satu situasi ke situasi yang lain.”

·           Syaikh Abdullah Ba’lawi Al-Haddad: ”Dakwah adalah mengajak, membimbing dan memimpin orang yang belum mengerti atau sesat jalannya dari agama yang benar untuk dialihkan ke jalan ketaatan kepada Allah, beriman kepada-Nya, serta mencegah dari apa yang menjadi lawan dari kedua hal tersebut.”

·         Hamka: ”Dakwah pada dasarnya berkonotasi positif yang substansinya terletak pada aktivitas memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar.”

·         Muhammad Quraish Shihab: ”Dakwah adalah seruan atau ajakan keinsyafan atau usaha mengembalikan situasi ke situasi yang lebih baik dan sempurna, baik pada pribadi maupun masyarakat.”

·         Mudzakkir Muhammad Arif: ”Dakwah adalah semua bentuk ajakan untuk mengamalkan Islam dalam bentuk apa saja.”

 

               Dari definisi di atas, setidaknya kita bisa mengambil beberapa kesimpulan: Pertama, Dakwah adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana; Kedua, Usaha tersebut adalah mengajak manusia kepada syariat yang telah digariskan Allah; Ketiga, Tujuan akhir dari dakwah adalah mencapai sa’idun fiddunya (bahagia di  dunia) dan sa’idun fil aakhirah (bahagia di akhirat).

               Sedangkan al-Qalam secara etimologis berasal dari Bahasa Arab yang berakar dari kata “Qaf—Lam—Mim” berarti “memperbaiki sesuatu sehingga menjadi nyata dan seimbang.” Contohnya, “Qalamtul Jifra wa Qalamtuhu” yang artinya “Saya memotong kuku atau meratakan kuku yang tidak rapih.”

               Beberapa ahli mendefinisikan al-Qalam secara isthilahy sebagai berikut:

·         Al-Tabrasi: “Qalam adalah salah satu alat yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan keinginannya, sehingga bisa sampai pada yang jauh maupun yang dekat.”

·         Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di: “Qalam mencakup secara keseluruhan apa yang digunakan untuk menulis berbagai macam ilmu pengetahuan.“

·         Muhammad Quraish Shihab: “Qalam, baik pada ayat keempat wahyu pertama maupun pada ayat kedua yang menggunakan salah satu huruf (surat Al-Qalam) adalah segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih.”

·         Muhammad Ali As-Shabuni: “Qalam adalah pena untuk menulis, alat untuk mencatat berbagai ilmu dari ilmu yang ada dalam kitab Allah hingga apa yang menjadi pengalaman manusia dari masa ke masa.”

      Dari definisi ini, al-Qalam yang empat kali disebut dalam Al-Qur’an itu menunjukkan sebuah alat untuk merangkai tulisan, lalu berkembang menjadi alat cetak mencetak.

      Jika tadi kita melihatnya dari definisi terpisah antara “dakwah” dan “al-Qalam” maka sekarang kita akan lihat definisi “dakwah bil qalam” dengan menggabungkan kedua kata tersebut.

      Mengutip Fakhrurrazi, Hamka mengatakan bahwa para malaikat melahirkan sebuah “dakwah bil qalam.” Hal ini digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Infithar mulai ayat 10, 11, dan 12. di ayat itu, disebutkan tentang malaikat-malaikat mulia yang ditugaskan Allah untuk menuliskan amalan manusia dan memeliharanya. Malaikat itu mengetahui apa yang dikerjakan oleh manusia di dunia ini. Di dalam surat Al-Jatsiyah ayat 29 Allah berfirman, ”Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya Kami menyuruh (kalian) apa-apa yang telah kalian kerjakan.”

      Menurut Suf Kasman, ayat di ataslah yang kemudian membuat nabi Sulaiman mempelopori “dakwah bilqalam” sebagaimana ditulis al-Maraghi dalam tafsirnya bahwa surat Sulaiman merupakan surat bercorak dakah yang pertama kali dimulai dengan kalimat, “Bismillahirrahmanirrahim.”

      Sedangkan menurut Ali Yafie, dakwah bilqalam pada dasarnya adalah, “Menyampaikan informasi tentang Allah, tentang alam, makhluk-makhluk dan tentang hari akhir/ nilai keabadian hidup. Dakwah model ini merupakan dakwah tertulis lewat media cetak.”

      Senada dengan mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia itu, Jalaluddin Rakhmat, pakar komunikasi dari Universitas Padjadjaran dalam bukunya Islam Aktual mengatakan bahwa, “Dakwah bilqalam adalah dakwah melalui media cetak, mengingat kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan seseorang berkomunikasi secara intens dan menyebabkan pesan dakwah bisa menyebar seluas-luasnya, maka dakwah lewat ulisan mutlak dimanfaatkan oleh kemajuan informasi.”

      Dari beberapa definisi di atas, ada kesimpulan yang bisa kita petik yaitu, “Dakwah bilqalam adalah ajakan kepada manusia lewat perantaran pena untuk membawa manusia kepada jalan Allah.”

      Jadi, dakwah bilqalam bisa dilakukan oleh kita semua. Kita bisa berdakwah lewat menulis di media cetak, buku, majalah, koran, selebara, pamflet bahkan sms yang isinya dakwah. Yang paling penting dalam dakwah lewat tulisan ini adalah materi (content) yang akan kita sampaikan sesuai dengan kaidah Islam—namun juga tetap mengandung unsur seni tulisan yang indah dibaca dan menarik.***   Yanuardi Syukur.



[1] Louis Ma’luf, al-Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 216.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help