dimanapun kamu ditanam, berkembanglah

Blog EntryMengapa Harus dengan Pena?Apr 4, '08 2:04 AM
for everyone

Mengapa Harus dengan Pena?

 

            DAKWAH adalah pekerjaan mulia, pekerjaan berat yang membutuhkan strategi dan taktik. Dakwah adalah pekerjaan para nabi dan rasul kemudian diteruskan kepada kita semua agar membawa umat dari kubangan kehinaan menuju istana keselamatan dan kesejahteraan.

            Dakwah dengan pena adalah sebuah strategi yang jitu untuk menyebarkan siraman kebahagiaan kepada banyak orang. Mungkin, ada yang akan bertanya, “Mengapa kita harus berdakwah lewat tulisan?”

            Tulisan ini akan memberikan alasan kenapa kita harus berdakwah lewat tulisan-tulisan kita.

            Dalam sebuah acara mabit FLP Sulawesi Selatan, Ustadz Mudzakkir Muhammad Arif memaparkan kepada peserta alasan-alasan mengapa kita harus dakwah lewat pena.

 

1.      Tulisan adalah amal jariyah yang abadi          

 

      Dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muislim dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, ”Apabila meninggal anak cucu Adam, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.”

      Tulisan dakwah adalah termasuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat yang pahalanya senantiasa mengalir terus menerus walau jasad kita telah habis dimakan cacing tanah.

 

2.      Pesannya lebih meluas

           

            Sebuah tulisan yang kita buat akan bisa dibaca oleh banyak manusia. Contoh jika kita menulis sebuah tulisan dan di-posting di intenet. Banyak orang yang mengaksesnya dari seluruh dunia. Maka, tulisan itu akan tersebar ke banyak penjuru dan kepala, bahkan jika disebarkan, maka jangkauan tulisan itu yang ditulis di Indonesia akan meng-internasional dan banyak orang bisa mengambil hikmah dari tulisan itu.

 

3.      Dapat dilakukan dalam kondisi apapun

           

            Apapun profesi kita, kita tetap punya peluang untuk menulis atau jadi penulis profesional. Tidak seperti profesi dokter misalkan yang hanya bisa diperoleh setelah melewati berbagai macam pendidikan di kampus.

            Walau tidak bersekolah kita tetap bisa menjadi seorang penulis. Di ujung pulau yang terpencil sekalipun kita tetap bisa menulis. kita bisa menulis dalam kondisi apapun: di kamar, mobil, kereta api, kapal laut, pesawat, kampus, sekolah, kantor, masjid, aula, bahkan di hutan atau saat mendaki gunung!

 

4.      Lebih berkesan

           

            Kita telah biasa berdialog, namun kita lebih suka lupa apa yang pernah kita dialogkan. Berbeda dengan itu, tulisan punya kesan yang lebih ketimbang dialog. Pembicaraan lewat dialog itu sudah hal yang biasa, yang sudah kita lakukan sejak kita kecil. Jadi, hal itu boleh dikatakan tidak terlalu berkesan karena kita sudah biasa melakukannya. Akan tetapi tulisan, sesuatu yang jarang kita lakukan akan punya kesan yang sangat mendalam dalam diri kita.

            Kartu selamat hari raya misalkan, walau singkat ditulis, akan tetapi maknanya sangat besar bagi orang yang mendapatkanya. Ada perhatian yang tulus dari orang lain kepada diri kita. Walau juga tidak bisa kita pungkiri bahwa pengaruh ucapan lisan juga ada kesan tersendiri. Akan tetapi di sini, kesan tulisan lebih dalam terasa ketimbang hanya kesan lisan.

           

5.      Dapat dibaca berulangkali

 

                  Buku-buku karangan ulama kita kita dahulu sampai sekarang masih kita baca berulangkali. Jika seorang Ibnu Qayyim tidak pernah menulis, maka umurnya mungkin hanya sebatas ketika nafasnya telah berakhir. Akan tetapi, karena beliau menulis, maka pesan dan keluasan ilmu beliau dapat kita menjadi renungan dan kajian buat kita generasi sesudahnya.

      Buku dapat dibaca berulangkali, walau sang penulis itu telah mati. Bukankah begitu?

 

6.      Karena tidak semua orang bisa dengan kalam

 

      Tidak semua orang berani berceramah di masjid. Di antara yang tidak berani itu ada yang karena faktor tidak percaya diri, grogi, salah tingkah, pemalu, atau pernah mengalami trauma gara-gara dilecehkan saat berceramah.

      Tidak semua orang bisa berkata-kata di depan publik, maka menulis adalah satu salah kiat sukses kita untuk tetap berdakwah walau tidak berada langsung di depan manusia. Jika tidak bisa dengan kalam (bicara), maka pakailah qalam (pena)!

 

7.      Salah satu senjata melawan ghazwul fikri

 

            Tulisan adalah salah satu senjata untuk melawan musuh-musuh agama yang melancarkan ghazwul fikri, perang pemikiran. Apakah ghazwul fikri itu? Luthfi Bashori, ulama dari Malang yang pernah menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah mengartikan sebagai ”Aksi perang non fisik yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan memurtadkan umat Islam dari agamanya.”

            Salah seorang pemimpin Partai Liberal Inggris beranama Gladstone pernah mengingatkan teman-temannya untuk melancarkan strategi ini. Dalam bukunya Musuh Besar Umat Islam, Bashori menulis kata-kata Gladstone yang berbisa itu, ”Selama kitab ini (seraya mengangkat Al-Qur’an dengan tangannya ke atas) masih ada di muka bumi (dipelajari dan diterapkan) jangan berharap mkalian mampu menundukkan umat Islam!”

            Darimanakah bermula ghazwul fikri ini? Jika kita kaji berbagai literatur sejarah, maka bertemulah kita dengan tokoh Abdullah bin Saba, sang bapak ghazwul fikri yang juga mengaku sebagai nabi. Gerakan ini sebenarnya adalah gerakan yang berupaya menjungkirbalikkan pemikiran umat Islam yang telah jelas yakni tidak ada nabi setelah Muhammad, karena Rasulullah yang mulia adalah “khaatamul anbiyaa’i walmursaliin” (penutup para nabi dan rasul) yang diutus Allah ke muka bumi.

            Di abad ke-13, ketika berakhir Perang Salib yang dimenangkan oleh umat Islam, demikian tulis Luthfi, orang Nasrani juga menyadari bahwa umat Islam tidak dapat ditundukkan dengan perang fisik semata. Mereka kemudian mengubah strategi perangnya dari perang frontal menjadi perang pemikiran yang lebih halus. Bersamaan dengan itu pula, bergerak pula orang-orang Yahudi, Atheis, Paganis, dan kaum munafikin yang sejak semula memusuhi Islam dengan membuat gerakan-gerakan penghancuran Islam.

            Saat ini, sungguh! Kita telah masuk dalam kancah perang pemikiran. Kita digoda oleh “4S”Sing (musik), Sex (seks), Sport (olahraga), Smoke (rokok)—dan “4F”Fun (kesenangan), Fashion (pakaian), Food (makanan), Faith (kepercayaan)—setiap hari. Ada yang berjatuhan, berguguran laksana dedaunan yang jatuh satu persatu. Ada juga yang maju mundur, adakalanya menjadi orang “shaleh”, di waktu yang lain menjadi orang “salah.” Macam-macam banyaknya itu. Selain itu tentunya ada di antara kaum muslimin yang tetap istiqamah di jalan kebenaran risalah yang dibawa para rasul mulia.

            Nah, di kancah perang antara al-haq dan al-bathil ini, akankah kita berdiam diri? Membiarkan tubuh dan keyakinan kita ditebas dan dicincang, dihinakan oleh musuh-musuh agama? Tidak! Sekali lagi tidak! Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk meninggikan ‘izzul Islam wal muslimin! Tidak! Kita harus turun menjadi petarung! Kalau begitu baiklah, mari segeralah angkat senjata menghancurkan musuh-musuh Islam di hadapan mata lewat senjata pena! *** Yanuardi Syukur.

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help