dimanapun kamu ditanam, berkembanglah

Blog Entry....Karena Kata Adalah Senjata!Apr 4, '08 2:11 AM
for everyone

(4)

…Karena Kata Adalah Senjata!

 

         SAYYID QUTHB, sastrawan dari Mesir itu pernah menulis sebuah makalah singkat namun penuh tenaga dalam bukunya, Beberapa Studi Tentang Islam[1]. Tulisan itu ia beri judul menarik, Kekuatan Kata-Kata. Di halaman 177, beliau menulis seperti ini:

         “...Para penulis sebenarnya bisa berbuat banyak. Tetapi ada satu syaratnya: mereka harus mati agar pikirannya dapat hidup. Pikiran mereka itu harus diberi makan dengan daging dan darah mereka sendiri. Mereka harus mengatakan apa yang mereka percayai benar, dan mereka mau menyerahkan darah mereka sebagai tebusan dari kebenaran itu. Pikiran dan kata-kata tetap akan merupakan mayat yang kaku, sampai kita mau mati untuk kepentingannya dan kita sirami ia dengan darah kita. Lalu ia tumbuh menjadi hidup, dan hidup di antara orang-orang yang hidup.”

         Sejenak melihat dan mentafakkuri apa yang dikatakan Quthb di atas akan membekas sebuah kata penting dalam kepala kita: berjuang! Dalam perspektif dakwah dengan pena, kita bisa menyebutnya dengan “Berjuang dengan Pena” atau “Berjihad dengan Pena.”

         Jihad dengan kekuatan pena menurut Quthb tak bisa kita lepaskan dengan hati yang tulus ikhlas dengan keyakinan yang paripurna terhadap apa yang akan kita tulis. Kata-kata beliau “...Mereka (para penulis) harus mengatakan apa-apa yang mereka percayai benar” bermakna bahwa apa yang kita tulis haruslah apa yang kita yakini benar dalam hati. Itu karena sampai tidaknya pesan dakwah yang kita sampaikan lewat tulisan turut pula ditentukan oleh seberapa kuat keyakinan, semangat dan kejernihan ruhiyah yang dimiliki oleh seorang penulis agar kata-katanya nanti akan melahirkan permata-permata indah yang siap diambil dan dijadikan harta berharga oleh para pembaca.

         “Karena kata adalah senjata!” Kata ini erat kaitannya dengan kalimat as-Syahid di atas. Untuk menjadi pejuang dakwah dengan pena kita benar-benar dan harus menganggap bahwa menulis adalah salah satu profesi kita sebagai pejuang, sebagai mujahidin ilallaah. Jika di masa perang fisik dulu para pahlawan kita menggunakan bambu runcing, senjata otomatis, bom rakitan yang diisi dengan paku, beling dan pupuk, dengan peluru tajam atau sesekali (jika berhasil merampas) dengan meriam canggih, maka saat ini kita menulis sebenarnya juga melanjutkan pekerjaan membebaskan umat ini dari penjajahan namun bersenjatakan pena.

         Menulis adalah berjuang dengan kata-kata yang bertenaga sebagai senjata dan hati yang lembut tulus dan ikhlas sebagai amunisinya. Senjata yang bertenaga berarti senjata itu bukan senjata biasa, bukan senjata sekali ditembakkan langsung rusak, tak bisa dipakai, akan tetapi senjata itu penuh dengan kekuatan yang membuatnya senantiasa tidak capek dalam menembak. Sedangkan hati yang lembut adalah amunisi, peluru yang akan terbang bebas, tidak ada beban, dan fokus pada sasaran. Ketika peluru hati itu telah sampai di sasarannya, maka serta merta orang yang punya hati tulus ikhlas pasti akan tertarik, simpatik dan malah akan mendukung para mujaahid bilqalam dalam peperangan ini.

         Menulis adalah berjuang untuk membawa umat manusia yang saat ini sedang berada dalam jahiliyah modern, yang berada dalam zhulumaat (kegelapan) menuju jalan kebenaran yang penuh dengan nur (cahaya) dan ridha Allah Yang Maha Kuasa.

         Mungkin ada yang akan bertanya, ”Sebenarnya, apa pentingnya menulis?”

         Orang-orang yang tidak (atau belum) tahu menulis adakalanya berpikir bahwa menulis itu kurang efektif dalam berdakwah. Akibatnya, golongan ini lebih menitikberatkan dakwahnya kepada perbuatan saja, kepada dakwah bilhaal saja.

         Di antara pejuang Islam yang tidak (atau belum) bergabung dalam kafilah dakwah dengan mata pena ada yang meyakini bahwa mereka—walau ilmunya telah cukup—merasa belum saatnya untuk tampil dalam dakwah lewat jalur ini. Mereka mau sebenarnya, akan tetapi mereka terjebak pada sebuah masa dimana mereka menunggu momentum yang tepat ketika kedewasaan, kebijaksanaan, hikmah telah mereka miliki untuk kemudian mentransformasikan ide-idenya ke dalam hati para pembaca.

         Golongan ketiga, adalah yang berpikir bahwa menulis itu adalah bagian dari pekerjaan perjuangan yang begitu panjang. Hati dan akal mereka telah paham dan sadar bahwa dewasa ini dunia kita berada dalam kendali para musuh Islam. Mereka menuliskan pemahaman yang salah tentang Islam, mendiskreditkan Islam, memfitnah para pejuang Islam dengan label ”teroris”, ”fundamentalis”, ”radikal”, ”ekstrimis”, atau ”militan.” Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mereka harus bergerak karena mereka mujahid, mereka mau tidak mau harus berani turun ke gelanggang walau sendirian dan memilih untuk fight, bertarung dengan para raksasa materialisme yang mendominasi dunia.

         Jika kita kembali ke tradisi ulama klasik, mungkin di antara mereka ada yang masuk dalam tiga ketegorisasi ini. Akan tetapi jika kita pikir-pikir dari tiga kategori ini golongan yang paling panjang ”umur” kehidupannya adalah golongan ketiga. Mereka memang telah tiada, tapi karya-karya mereka sampai sekarang masih tetap ada, dicetak ratusan bahkan ribuan eksemplar dalam berbagai bahasa umat manusia. ”Umur” karya mereka lebih menjadi lebih abadi ketimbang hanya ceramah di hadapan umat. Begitulah pentingnya dakwah dengan pena.

         Olehnya itu, tidak ada salahnya lewat tulisan singkat ini, marilah kita berjuang lewat tulisan! Berdakwah lewat hati, kepala, jemari, kata-kata (senjata kita) dan tinta-tinta kita!

         Karena kata adalah senjata, maka marilah kita sanggul senjata itu dan tembakkan kepada sasaran dengan jitu. Ya! karena kata adalah benar-benar senjata untuk melumpuhkan arogansi lawan, maka marilah kita borong senjata-senjata itu untuk memenangkan pertarungan sengit antara kebenaran dan kebatilan ini. Karena kata adalah senjata, maka bagi sesiapa yang nuraninya masih menyala, akalnya masih sehat, kemampuannya masih ada, marilah kita berjuang! *** Yanuardi Syukur.



[1] Diterbitkan oleh Penerbit Media Dakwah, Jakarta.


zerofestz wrote on May 18
Aku bukan siapa-siapa,pada akhirnya
Hanya manusia penuh haru
Aku bukan apa-apa pada saatnya
Hanya makhluk dengan sejuta keluh
Akankah kehidupan membalikkan matanya
Memberi sedikit angin segar, sedikit oksigen untuk mampir ke paru-paru dan mengisi setiap alveoli....
Sementara aku disini sekali lagi dan selalu bukan siapa-siapa.....

Kenyataan menusuk jiwa, menelangsa sukma
Menelanjangi logika-logika, haus memburu sengsara
Kemanakah ayat-ayat suci yang selalu kubaca
Kemanakah iman yang selalu kupercaya
Kemanakah jiwa ini telah melangkah

Angin kehidupan begitu indah menipu,
begitu membuai menenggelamkan
Hati ini telah kosong dan selalu

Akankah harapku terjawab
Akankah asaku terbakar

Semoga Allah mengabulkan yang demikian itu
zerofestz wrote on May 18
Karena penyair hanya akan hidup ketika telah mati, jiwanya akan segera bereinkarnasi sepersekian detik sesaat setelah terusir dari kenyataan. Sementara kata-kata adalah bayi setiap puisi, akar semua lantunan dan penegasan setiap fakta, semoga bentuk lahiriah terindah ini dapat menjadi dewasa yang membimbing banyak jiwa.
yankoer wrote on May 19
terima kasih wahai rekan penyair. puisinya baik sekali
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help