Semakin hari, semakin berat terasa.
Kita berjalan, dan terus berjalan dalam ruangan yang kita buat sendiri.
Kita merasa itulah yang terbaik, tapi tampaknya itu masih belum yang terbaik di mata kebaikan.
Semakin hari, semakin berat hati kita bawa.
Kita membawanya, berlari, menyusuri setapak demi setapak hanya untuk menemukan dimanakah kesejatian berada.
Kita pun hanya terbentur pada dua konsekuensi logis:
terus melangkah atau berhenti sejenak
Semakin hari, godaan, cobaan selalu datang melanda.
Saat kita punya keinginan yang teramat sangat untuk melangkah, memperbaharui sesuatu yang ada, kita pun digoda oleh masa lalu untuk kembali ke sana. Padahal kita telah bertekad untuk melangkah, melangkah dan melaju terus, tidak melihat kebelakang
Nuh, engkaulah nabi yang berani. Ibrahim, engkaulah nabi yang berani berkata benar.
Adakah aku bisa sepertimu?
Semakin hari, semakin berat amanah ini kita rasa. Kita pun seperti mau memutuskan untuk berhenti, tapi sejarah selalu memperingatkan kepada kita untuk terus melangkah. Kita pun melangkah, walau sobek sobek pakaian kita, walau kesulitan demi kesulitan melanda. Kita harus tetap berjalan!
Semakin hari, semakin berat kita rasa. Tapi, kekuatan jiwa kita selalu memanggil-manggil untuk menjaga semangat. Ya, kita punya semangat! Ya, walau kita pernah salah, karena kita juga manusia, kita ingin berubah, berubah dan melangkah ke masa depan.
Semakin hari, godaan demi godaan selalu datang. Godaan tepuk tangan dari hadirin, godaan untuk dipuji, untuk didendangkan, untuk disebut-sebut dalam forum, untuk ditulis dalam memoar, atau untuk diingat oleh orang lain. Kita pun tergoda untuk terperangkap dalam kubangan itu.
Tapi, kita harus kembali. Ya, kita harus kembali bangkit! Jangan terlena dengan keadaan, kita lah pemenang! Kitalah pemenang!