Hadirilah...
untuk yang ada di Makassar terutama..
bedah buku CUPIDERMAN 3g Karya S. Gegge Mappangewa (mantan ketua FLP Sulsel)
pemateri: 1. S Gegge Mappangewa 2. Nur Alim Jalil (pemred koran FAJAR Makassar) 3. Idham (redpel Koran kampus IDENTITAS Unhas)
moderator: Yanuardi Syukur
Kamis, 18 Juni 2008 08.00-12.00 wita
LT 8 Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar
Jangan Lalai dengan Harta dan Anak Tafsir Tematik Surat Al-Mu’minun 55-61
Oleh Ust. Muhammad Iqbal Coing, al-hafidz
“[23.55] Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), [23.56] Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. [23.57] Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, [23.58] Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, [23.59] Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), [23.60] Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, [23.61] mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”
Pelajaran yang bisa dipetik : 1. Ada dua macam cara tafsir yang biasa digunakan para ulama: tahlili (berkelanjutan sampai 30 juz) dan maudhu’i (tematik, memilih beberapa ayat saja). 2. Harta dan anak bukan ukuran kebaikan yang sebenarnya. Ada anak yang berprestasi tapi malah tidak menghormati orang tuanya, begitu juga ada yang tidak berprestasi juga tidak menghormati orang tuanya. Mari kita pelajari dari do’a nabi Ibrahim yang berdoa agar Allah tidak menghinakannya di akhirat ketika (hari itu) tidak bermanfaat maal (harta) dan banuun (anak), kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan qalbin salim (hati yang bersih). 3. Kenapa ada ayat ini? Mari pelajari asbabunnuzulnya (sebab turunnya). Ayat ini diturunkan untuk al-Walid bin Mughirah cs. Mereka adalah golongan kaya di Mekkah. Mereka meremehkan pengikut nabi Muhammad yang rata-rata orang miskin. Mereka tidak mau mengikuti nabi karena mereka sangat cinta kepada harta dan anak mereka. 4. Harta menjadi tidak bermanfaat itu karena tidak dikelola dengan baik, tidak dikelola dengan petunjuk dari Allah. Pun demikian dengan anak, harus dikelola dengan baik agar memberikan kebaikan kepada kedua orang tuanya. 5. Masalahnya, banyak orang tidak bisa mensejalankan harta dan anak sesuai dengan petunjuk Allah. Kalau tidak bisa dua-duanya, utamakan petunjuk Allah. 6. Jalan untuk mendapatkan kebaikan yang sebenarnya: miliki sifat-sifat berikut ini : - Karena takut kepada Allah, membuat ia berhati-hati. Orang yang mau mendapatkan harta membuatnya hati-hati, semua orang menginginkan harta. Dia hanya mau mencari lewat jalan yang halal saja, jika telah dapat harta dia hati-hati dalam membelanjakannya, jangan sampai dibelanjakan di jalan yang tidak diridhai Allah. Begitu juga ia hati-hati dalam mendidik anak, dia hati-hati jangan sampai salah memilih sekolah, perguruan tinggi, pergaulan, pasangan hidup. Dia selalu menyesuaikan dengan petunjuk Allah. - Ada hadits, salah satu yang tidak mencium bau surge adalah ad-dayyus, apa itu? Adalah kepala keluarga yang tidak peka melihat kemungkaran. - Benar-benar beriman kepada ayat-ayat Allah. Dia beriman, dia tinggalkan apa larangan Allah walau itu menjanjikan keuntungan. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api nereka,” dia yakin dengan ayat ini. Celaka anak yang tidak mengikuti petunjuk Allah! - Murni tauhidnya. Tidak mensyarikatkan Allah. Tidak seperti orang yang dikecam Allah dalam surat al-A’raf: orang tua yang bernadzar ketika istrinya hamil tua dia bernadzar kelak akan membawa anaknya menjadi shaleh, namun ketika anaknya telah ada dia lupa kepada Allah. Kemusyrikan bukan hanya penyembahan patung tapi juga tidak memberikan zakat, nereka wail untuk mereka, kata Allah, seperti yang ada dalam surat fusshilat 6-7 - Selalu memberi. Dermawan. Memang dia cari harta, tapi bukan untuk dirinya semua. Untuk orang lain. - Dalam kondisi sudah berbuat baik, hatinya selalu khawatir kalau-kalau dikembalikan kepada Allah dalam keadaan tidak siap. Semakin banyak kebaikannya semakin tawadhu, cemas, sehingga tidak merasa puas dengan amalnya yang sudah ada, tidak pernah memandang enteng dosa, takut su’ul khatimah dan sangat rindu husnul khatimah. 7. Mereka yang memiliki 5 sifat terpuji ini merekalah yang bersegera mendapatkan kebaikan dan merekalah yang mendapat kebaikan. 8. Pesan : jadilah pejabat, jadilah orang kaya. Jadilah apa saja yang kita bisa jadi, tapi jangan lupakan 5 sifat terpuji ini.
Nb: - Ust. M. Iqbal Coing adalah guru di Darul Istiqamah, menghafal al-Qur’an 30 juz lewat pendengaran karena sejak kecil tidak bisa melihat, pernah menjadi pimpinan Darul Istiqamah Cabang Bulukumba. - Dibawakan pada penataran setahun Pesantren Darul Istiqamah Pusat Maros, Sulawesi Selatan, 20 Mei 2008, bakda Subuh. Ditulis oleh Yanuardi Syukur, moderator.
7 MANFAAT BLOG BAGI PENULIS Seri Artikel Blogging & Publishing Belakangan ini, saya lumayan gencar mendorong sahabat-sahabat penulis maupun siapa saja yang sedang belajar mengembangkan kemampuan menulis untuk membuat weblog atau blog. Saking bersemangatnya, sampai ada rekan yang berseloroh, “Wah, bikin blog-nya aja belum genap sebulan. Tapi, cara ngomporinnya udah semangat 45!” Diledek begini saya langsung ngeles (berkilah), “Lho, nge-blog-nya di Ezonwriting.wordpress.com boleh baru. Tapi, nulis di media media online kan udah dari dulu?” Dan, rekan ini cuma bilang, “Ya, whatever-lah...!” Kali ini, saya ingin menekankan kembali betapa media blog ini punya banyak manfaat bagi penulis, atau siapa saja yang sedang belajar menulis. Bagi saya, blog sebenarnya punya karakteristik yang hampir sama dengan website biasa seperti Pembelajar.com atau beragam website lainnya. Bedanya hanya sedikit, yaitu pada kemudahan pembuatannya, pengelolaannya, template yang tersedia, serta sifat gratisan namun dengan menu-menu pendukung yang berlimpah. Saya tidak akan bahas hal teknis soal beda website biasa dengan blog di sini karena memang bukan kompetensi saya. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa siapa pun sekarang bisa memiliki blog dengan tampilan profesional (layaknya website biasa yang cantik) secara gratis dan mudah. Nah, blog ini ibarat rumah kita di dunia maya yang bisa didandani dan dimodifikasi sedemikian rupa, serta dimanfaatkan sesuai kebutuhan kita. Dalam konteks tulisan ini, kita akan ulas manfaat blog dari segi kepenulisan. Baik, dari pengamatan saya, ada sejumlah manfaat blog bagi penulis atau siapa pun yang sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Berikut di antaranya. Pertama, blog menjadi sarana publikasi tulisan yang termudah sekaligus strategis. Kita sudah pada tahu, salah satu masalah utama yang dialami kebanyakan penulis—terlebih lagi penulis pemula—adalah soal wadah publikasi. Media massa umum seperti koran, tabloid, majalah, jurnal, sering kali terbatas ruangnya dan mematok standar kualitas tulisan tertentu. Setiap hari, ribuan tulisan masuk ke meja redaksi berbagai media massa, tapi hanya sedikit saja yang bisa dimuat. Nah, selain sejumlah website yang menerima kontribusi tulisan dari luar, blog bisa jadi solusi bagi tulisan-tulisan yang tidak tertampung itu. Manakala tulisan ditampilkan di blog, aslinya tulisan itu sudah punya “nyawa” dan mendatangkan pengaruh. Hanya tulisan yang dipublikasikan saja yang punya nyawa dan pengaruh kepada pembacanya. Blog bisa menjadi alat untuk menghidupkan tulisan kita. Lalu, apa strategisnya memublikasikan tulisan di blog? Nilai strategisnya sedikit berbeda dengan media offline macam surat kabar. Tulisan yang dimuat di surat kabar belum tentu bisa diakses melalui internet, kalau surat kabar tersebut tidak online. Tulisan di blog jelas online, dan pada tingkatan tertentu, tulisan tersebut mudah diakses melalui search engine. Jejak di search engine inilah yang punya nilai startegis. Kedua, tulisan di blog mudah sekali dikomentari dan feedback ini banyak manfaatnya. Asal menu komentar tidak ditutup, maka siapa pun yang membaca tulisan kita bisa berkomentar apa saja di sana. Memang, untuk blog yang aktif serta sering dikunjungi, komentar mudah sekali didapat dan jumlahnya bisa banyak sekali. Sementara, blog yang kurang aktif, jarang ditaut (di-link), dan jarang dikunjungi biasanya juga tidak banyak komentarnya. Banyak orang belum sepenuhnya aware dengan peran komentar atau feedback tulisan ini. Bagi penulis, komentar atas tulisan sungguh merupakan alat uji bagi tulisan itu sendiri. Positif atau negatif komentarnya, itu semua bisa menjadi bahan perbaikan tulisan atau bagian dari proses pembelajaran penulisnya. Bahkan, banyak sekali ide-ide baru yang bisa dielaborasi dan dieksplorasi dari lalu lintas komentar tersebut. Ketiga, blog bisa menjadi alat penumbuh kebiasaan dan keteraturan menulis. Bagaimanapun, setelah punya blog biasanya kita akan terdorong untuk terus mengisinya dengan berbagai bentuk tulisan. Terlebih bila tulisan-tulisan kita mendapatkan sambutan atau aneka komentar dari para pengunjung. Ini akan memotivasi kita untuk rajin mem-posting tulisan. Bagi mereka yang sedang belajar menulis, komentar atau tanggapan blogger (penulis blog) lain ini akan sangat besar artinya. Khusus untuk para blogger yang sudah memiliki jaringan luas serta setiap tulisannnya dinantikan, pastilah ada semacam dorongan untuk terus mengisi blog-nya. Tulisan-tulisan terbaru para blogger yang sudah cukup bergaung namanya atau terkenal biasanya juga selalu dinantikan. Bila mereka mulai mengendor atau jarang meng-update blog, pasti ada keluhan dari para pengunjung setia. Jika ini keterusan, pengunjung bisa menurun dan akan kurang menguntungkan si blogger. Keempat, menulis di blog secara rutin juga berdampak pada kemampuan kita dalam menuangkan gagasan. Makin sering menulis di blog, rasanya akan semakin mudah pula mengeluarkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Ini sama persis dengan kegiatan menulis diari sehari-hari. Semakin sering kita mengisi diari, semakin mudah dan lancar pula kita menulis. Kelima, blog bisa menjadi ajang ekspresi yang bebas hambatan sama sekali. Ini memungkinkan tulisan-tulisan yang dalam kacamata umum mungkin dianggap kurang pantas, terlalu absurd, atau melanggar aturan-aturan tertentu, di blog malah mendapatkan saluran seluas-luasnya. Blog bisa menjadi saluran gagasan-gagasan alternatif, bahkan yang paling ekstrim sekalipun. Ini yang tidak mungkin diwadahi oleh media konvensional. Sifat blog yang bisa diisi oleh siapa pun, dengan jenis tulisan apa pun, serta dengan segala tingkatan kemampuan menulis, membuatnya menjadi ajang ekspresi intelektual yang sangat konstruktif. Sumirnya batas-batas tersebut (karena penulis sendirilah yang menetapkan batasannya) bisa merangsang blogger menuliskan apa saja serta menambahkan keberanian dalam berekspresi. Nah, sisi keberanian berekspresi inilah yang bisa mendongkrak kemampuan menulis seseorang. Keenam, blog adalah tempat kita untuk menabung tulisan. Satu demi satu kita isi blog dengan beragam tulisan, maka lama kelamaan blog kita akan penuh juga. Bagus sekali bila mayoritas tulisan yang kita tampilkan di blog adalah karya sendiri. Terlebih bila blog memang kita jadikan sebagai sarana untuk berlatih menulis dan menampung tulisan-tulisan karya sendiri. Pada saatnya nanti, tulisan-tulisan di blog bisa kita oleh menjadi karya lainnya, buku misalnya. Kalau tulisan sudah terkumpul dan temanya memiliki benang merah tertentu, serta dari sisi kualitas memang memenuhi syarat untuk dibukukan, mengapa tidak dibukukan? Potensi inilah yang tampaknya belum banyak dilirik oleh para blogger. Saya termasuk yang sedang mendorong-dorong para blogger supaya ngeh dengan potensi blog untuk dibukukan. Ketujuh, blog bisa berfungsi sebagai media personal branding. Blog bisa menjadi ajang unjuk ide, pikiran, karya, tulisan, serta pencitraan. Lima tahun yang lalu mungkin Anda tidak mengenal siapa itu Enda Nasution, Priyadi, Fatih Syuhud, Jennie S. Bev, dan para blogger kenamaan saat ini. Kalaupun sudah mengenalnya, mungkin hanya sayup-sayup belaka. Tapi, berkat kiprah mereka di dunia maya melalui blog, mereka kini dikenal menjadi orang-orang beken di dunia blog Tanah Air. Itu artinya, mereka berhasil membangun merek diri melalui blog. Tinggal pemanfaatan ekuitas mereknya saja akan seperti apa nantinya. Blog bisa membuat seorang penulis yang “bukan siapa-siapa” menjadi penulis yang bisa “dikenal oleh siapa saja”. Interkoneksi antara blog dengan mesin pencari dan kebutuhan akan data oleh pengguna internet, ternyata telah menciptakan situasi kesalingterhubungan alias saling kenal. Terpaut dengan segala aktivitas maya lainnya, maka situasi itulah yang akhirnya bisa memupuk brand seseorang. Nah, berangkat dari tujuh keuntungan atau manfaat tersebut, saya kembali mengajak Anda para penulis maupun siapa saja yang sedang belajar menulis, ayo buat blog penulisan. Wadah publikasi tulisan sudah bukan barang langka dan sakral lagi. Semua orang bisa nge-blog dan menjadi “sesuatu” yang berarti karena aktivitas tersebut. Ok, sampai ketemu di dunia blog dan temukan semakin banyak manfaat di sana.[ez] * Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang “Membuat Blog Menjadi Buku”, “Cara Gampang Menerbitkan Buku Sendiri”, dan “Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller” pada November-Desember 2007 ini (Info selengkapnya, hubungi SPP di 021-7828044). Kunjungi blog Edy di: http://ezonwriting.wordpress.com atau email: edzaqeus@gmail.com. http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=1037&page=3 04 Maret 2008 - 07:23 (Diposting oleh: Editor) MEMBANGUN KARAKTER Disiplin diri merupakan hal penting dalam setiap upaya membangun dan membentuk karakter seseorang. Sebab karakter mengandung pengertian: (1) Suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga membuatnya menarik dan atraktif; (2) Reputasi seseorang; dan (3) Seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian yang eksentrik. Akar kata karakter dapat dilacak dari kata Latin kharakter, kharassein, dan kharax, yang maknanya “tools for marking”, “to engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini mulai banyak digunakan (kembali) dalam bahasa Perancis caractere pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi character, sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia karakter. Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga ‘berbentuk’ unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau ‘berkarakter’ tercela). Tentang proses pembentukkan karakter ini dapat disebutkan sebuah nama besar : Helen Keller (1880-1968). Wanita luar biasa ini––ia menjadi buta dan tuli di usia 19 bulan, namun berkat bantuan keluarganya dan bimbingan Annie Sullivan (yang juga buta dan setelah melewati serangkaian operasi akhirnya dapat melihat secara terbatas) kemudian menjadi manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904–– pernah berkata: “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”. Kalimat itu boleh jadi merangkum sejarah hidupnya yang sangat inspirasional. Lewat perjuangan panjang dan ketekunan yang sulit dicari tandingannya, ia kemudian menjadi salah seorang pahlawan besar dalam sejarah Amerika yang mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional atas prestasi dan pengabdiannya (lihat homepage www.hki.org). Helen Keller adalah model manusia berkarakter (terpuji). Dan sejarah hidupnya mendemonstrasikan bagaimana proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau instant. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis, refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Selanjutnya, tentang nilai atau makna pentingnya karakter bagi kehidupan manusia dewasa ini dapat dikutip pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika, Antonin Scalia, yang pernah mengatakan: “Bear in mind that brains and learning, like muscle and physical skills, are articles of commerce. They are bought and sold. You can hire them by the year or by the hour. The only thing in the world NOT FOR SALE IS CHARACTER. And if that does not govern and direct your brains and learning, they will do you and the world more harm than good”. Scalia menunjukkan dengan tepat bagaimana karakter harus menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning). Sebab kecerdasan dan pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri memang dapat diperjualbelikan. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era knowledge economy abad ke-21 ini knowledge is power. Masalahnya, bila orang-orang yang dikenal cerdas dan berpengetahuan tidak menunjukkan karakter (terpuji), maka tak diragukan lagi bahwa dunia akan menjadi lebih dan semakin buruk. Dengan kata lain ungkapan knowledge is power akan menjadi lebih sempurna jika ditambahkan menjadi––meminjam sebuah iklan yang pernah muncul di Harian Kompas–– knowledge is power, but character is more. Demikianlah makna penting sebuah karakter dan proses pembentukkannya yang tidak pernah mudah melahirkan manusia-manusia yang tidak bisa dibeli. Ke arah yang demikian itulah pendidikan dan pembelajaran ––termasuk pengajaran di institusi formal dan pelatihan di institusi nonformal––seharusnya bermuara, yakni membangun manusia-manusia berkarakter (terpuji), manusia-manusia yang memperjuangkan agar dirinya dan orang-orang yang dapat dipengaruhinya agar menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang utuh atau memiliki integritas.[aha] * ANDRIAS HAREFA adalah seorang trainer dan penulis 30 buku laris http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=1143  Gregorius Agung: Saya Yakin Seratus Persen Bisa Hidup dari Menulis Anak muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan. Fokus dalam penulisan buku-buku komputer menjadikan Gregorius Agung seorang penulis buku komputer terkemuka di Tanah Air. Bukan itu saja, ia bahkan mampu mendirikan Jubilee Enterprise, sebuah perusahaan media content provider yang memasok penerbit dengan naskah-naskah buku komputer terbaru. Tak kurang dari 12 karyawan/penulis dipekerjakannya di bisnis tersebut. Dan, dalam kurun tiga bulan terakhir (Mei-Agustus 2007) tak kurang dari 40 judul buku telah ditulis untuk penerbit buku. Di saat banyak penulis jatuh pesimis dengan dunia penulisan dan penerbitan—yang antara lain ditandai dengan “keyakinan” bahwa mustahil penulis bisa hidup dari hanya menulis, Gregorius Agung maju dengan bantahan yang konkrit. Greg, demikian nama panggilannya, justru mampu menjadikan dunia tulis-menulis sebagai sebuah industri yang benar-benar menguntungkan. Itu sebabnya, dia yakin seratus persen, setiap penulis mampu melakukannya. Greg, yang beristrikan Mona Sondakh dan telah dikaruniai seorang putera bernama Vincentio Rexel Sultandhani, ini memulai karir menulisnya sejak masih berstatus mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sukses dengan buku pertamanya, Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, Greg seperti “kesetanan” dalam menulis buku komputer. Sejak itu, enam hingga delapan buku berhasil dia tulis tiap bulannya.... Luar biasa! Greg membuktikan, menulis bisa memberikan kesejahteraan. Sesuatu yang masih sering dianggap mustahil di Indonesia. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Gregorius Agung via email baru-baru ini: Bisa diceritakan proses belajar menulis Anda, belajar dari siapa, mulai kapan, dan bagaimana caranya? Kebetulan, saya punya guru SMA yang sangat saya kagumi. Nama beliau St. Kartono, yang saat itu menjabat Wakil Kepala Sekolah SMU Kolese De Britto. Dari didikan beliaulah saya memiliki minat yang tinggi tentang dunia penulisan. Gaya mengajarnya menyenangkan. Pernah saat saya duduk di kelas 1, ketika itu di tahun 1994, guru saya tersebut menyuruh kami semua menulis karangan deskripsi tentang dirinya. Pas karangan saya diperiksa, mendadak dia berdiri dan memberi aba-aba untuk menenangkan seluruh kelas yang agak ribut. “Coba dengar tulisan yang dibuat si Greg. Jika Pak Kartono berjalan, langkahnya cepat dan lebar...,” kata guru saya yang juga penulis artikel di media massa tersebut, mengulangi tulisan deskripsi yang saya tulis. “Kalau saya berjalan seperti ini,” Pak Kartono pun memperagakan orang yang melangkah cepat dan kakinya melangkah maju ke depan, “...maka itu disebut, langkahnya cepat dan...” Sekejap kelas pun terhening, “Panjaannng...,” sambungnya. “Kalau Greg menulis langkahnya cepat dan lebar, maka jalannya seperti ini...,” Pak Kartono pun memeragakan orang yang terkena ambeien atau baru sunatan sedang berjalan mekangkang! Seluruh kelas pun terbahak! Waktu saya mengambil karangan tersebut, Pak Kartono tersenyum sinis sambil mewanti-wanti,”Kalau pilih kata yang hati-hati ya...!” Dari sinilah, saya menarik benang merah bahwa menulis itu menyenangkan dan bisa bikin satu kelas riuh rendah. Kapan pertama kali menulis untuk tujuan komersial? Sejak artikel pertama saya di Kedaulatan Rakyat dimuat, saat itu tujuan sebenarnya sudah komersial. Tapi puncaknya dimulai pada tahun 1999 ketika masih semester awal di perguruan tinggi. Saya punya keberanian untuk menulis buku komputer pertama kali yang langsung ditujukan ke PT Elex Media Komputindo. Saat itu, internet masih fresh from the oven dan tema buku yang saya buat berkaitan dengan pemrograman internet. Bagaimana ceritanya sampai Anda terjun menjadi penulis spesialis buku-buku komputer? Buku pertama saya berjudul Belajar Sendiri Membuat Homepage Interaktif dengan CGI/Perl, diterbitkan kalau tidak salah Mei 1999. Uniknya, saat saya mengajukan proposal penulisan buku tersebut, redaksi Elex langsung setuju. Setelah diterbitkan, dua bulan langsung ludes. Padahal, cetakan pertama saat itu 5.000 eksemplar. Jadilah buku tersebut bestseller. Dari situ, saya menemukan dunia penulisan buku komputer yang kemudian saya sambung dengan menulis buku Frontpage 2000 Webbot yang juga diterbitkan oleh Elex Media. Sering menemui kendala-kendala dalam menulis buku-buku komputer? Sejauh ini tidak. Sampai sekarang, berapa banyak buku sudah Anda tulis? Sudah tidak terhitung lagi. Jubilee Enterprise sendiri sudah menerbitkan 40 judul buku baru dalam rentang Mei 2007 sampai Agustus 2007. Belum judul-judul yang telah diterbitkan sebelumnya. Wah, tak terhitung lagi deh. Buku mana yang paling mengesankan Anda? Buku pertama sangat mengesankan, bukan saja karena buku tersebut adalah debut awal, tapi tingkat penjualannya yang fantastis membuat arah penulisan saya menjadi lebih jelas. Selanjutnya, proses penulisan buku menjadi lebih mengalir karena menjadi sudah terbiasa dengan dunia komputer. Dari royalti buku-buku Anda, rata-rata rupiah Anda terima setiap semesternya? Syukurlah, sampai sekarang saya dan Jubilee Enterprise masih menampuk pemegang royalti terbesar untuk kategori buku komputer dari penerbit Elex Media. Dari royalti tersebut, saya bisa mempekerjakan 12 pegawai yang hanya berkonsentrasi di dunia penulisan saja. Jadi kira-kira bisa dibayangkan sendiri, berapa yang kami dapat he he he. Anda benar-benar yakin bisa hidup layak dari menulis? Yakin seratus persen. Ada sentilan yang unik ketika saya selesai mengisi acara Kompas Gramedia Fair pada bulan Mei 2006 lalu. Saat itu, saya ditraktir oleh Manajer dan Redaksi Elex Media di Starbucks Coffee. Sembari menyeruput kopi yang menurut saya agak aneh rasanya, saya berdiskusi dengan Mas Arie, Manajer Redaksi, tentang dunia buku. Saat itu, beliau sempat berkata bahwa selama ini dia belum menemukan contoh kasus di mana orang bisa hidup layak hanya dari menulis saja. Ketika saya dan Jubilee Enterprise melakukan agresi penulisan buku, beliau ikut-ikutan yakin bahwa hidup makmur dari menulis bisa diraih. Seorang Jenar Maesa Ayu sekalipun, dalam sebuah tayangan televisi, menyatakan, “Sulit bisa hidup hanya dari menulis.” Komentar Anda? Kalau bicara tentang kemampuan diri sendiri, sepertinya pernyataan di atas sungguh tepat. Terlebih jika ia adalah penulis buku yang membidik segmen pasar yang sangat spesifik, misalnya sastra idealis atau buku anak-anak. Tetapi kalau kita berkolaborasi dengan orang lain untuk membuat buku, maka ceritanya bisa lain. Kita ambil contoh, seorang penulis sastra bisa pula menulis buku manajemen dan laku keras! Bagaimana caranya? Gampang saja. Ajak orang yang pintar teori atau praktik manajemen, dan tulislah pengalaman atau buah pikirannya itu. Kemudian, tawarkan ke penerbit. Tapi bukan berarti teknik ini jauh dari risiko. Tantangannya menjadi sangat berbeda. Biasanya, penulis adalah pekerjaan yang individualistis. Sementara kalau bekerja sama dengan orang lain, otomatis sudah menjadi pekerjaan tim. Ini tidaklah mudah karena masing-masing punya ego, cara bekerja, dan pandangan yang berbeda yang acapkali di lapangan, perbedaan itu mudah mengancam jalannya proses penulisan buku. Tapi kalau berhasil, pendapatan dari penjualan buku sangatlah tinggi dan dia bisa hidup makmur dari metode di atas. Jika teknik di atas diulang ratusan kali, maka pernyataan “sulit bisa hidup hanya dari menulis” bolehlah dikoreksi. Menurut pengalaman Anda, apa saja yang harus disiapkan, dilakukan, dan dibiasakan agar penulis bisa hidup layak dari menulis? Pertama-tama, ubahlah mindset bahwa menulis hanyalah profesi sampingan. Jadikan menulis sebagai profesi utama sehingga pikiran kita selalu fokus untuk mencari ide-ide baru yang brilian dan marketable. Keuntungan fokus lainnya adalah, jika kita dihadang masalah, maka otak kita hanya seratus persen digunakan untuk menghancurkan atau mengatasi masalah itu. Dan yang terpenting, kita bisa menemukan cara kerja yang paling praktis untuk membuat buku secara konsisten. Saat ini, saya belum menemukan penulis, terutama buku komputer, yang concern terhadap penulisan buku saja. Kebanyakan, mereka masih menyambi sebagai dosen atau pengajar. Pandangan Anda terhadap statement bahwa seorang penulis harus mampu “menjual” diri dan gagasannya? Menjual gagasan sangat penting karena buku adalah gagasan kita. Kalau gagasannya jelek, bukunya nggak ada yang mau beli. Untuk yang satu ini, tidak perlu dibahas lagi karena core buku adalah ide atau gagasan. Sedangkan kalau bisa “menjual” diri, itu relatif. Jika ingin sukses, “menjual” diri itu penting baik dengan cara menjadi pembicara seminar, pengajar, atau konsultan. Tapi di dunia buku komputer, fenomenanya agak nyentrik. Orang beli buku komputer karena butuh. Jadi, walaupun si pengarang ngetopnya bukan main, tapi kalau bukunya nggak dibutuhkan, maka penjualannya pun tidak terdongkrak. Tapi mengenai hal ini, sifatnya masih bisa diperdebatkan karena belum ada penelitian yang spesifik. Selain keuntungan royalti, hal apa saja yang Anda raih dari menulis? Buku yang saya tulis bisa diibaratkan “kartu akses” untuk memasuki “wilayah” tertentu. Saya ambil contoh, beberapa bulan yang lalu saya berkeinginan mengajar Photoshop level advance di salah satu lembaga kursus paling top dan bergengsi yang kebetulan buka cabang di Yogyakarta. Karena saya sudah membuat banyak sekali buku Photoshop, maka tidak butuh surat lamaran, referensi, fotokopi ijazah, dan atribut-atribut lamaran lainnya untuk bergabung menjadi pengajar di lembaga kursus tersebut. Malah untuk honornya, bisa dinegosiasi he he he. Selain itu, saya juga punya kenalan orang-orang perbukuan dan pihak-pihak yang bergerak di industri software. Pernah ketika mengadakan seminar di UPH, salah satu petinggi Microsoft mentraktir kami makan siang sambil membahas kecanggihan Office 2007. Ini merupakan pengalaman yang menarik. Bisa Anda tambahkan tentang Jubilee Enterprise? Jubilee Enterprise merupakan hasil dari konsep industrialisasi penulisan yang telah saya pikirkan sejak lama. Awalnya, Jubilee Enterprise bergerak di bidang web design karena saat didirikan tahun 1999, era dotcom sedang seru-serunya. Tapi karena merasa bahwa bidang ini tidak menantang, maka saya ubah menjadi media content provider yang tujuan akhirnya adalah membuat buku-buku komputer secara massal lewat SOP yang saya ciptakan sendiri. Berkaitan dengan menulis, adakah obsesi yang masih tersisa? Dunia penulisan itu sangat luas. Saat ini saya memang berkonsentrasi di buku komputer. Tapi obsesi saya, saya atau Jubilee Enterprise harus memiliki kapabilitas untuk menulis materi non-TI, seperti buku manajemen atau skenario film. Kita sudah mengarah ke sana. Jika terwujud, ada dua efek yang terjadi. Pertama, ada banyak orang yang bisa saya pekerjaan lagi sehingga sedikit-sedikit membantu mengatasi masalah pengangguran. Kedua, slogan Jubilee Enterprise benar-benar akan terpenuhi. Ingin tahu slogan tersebut? Sederhana kok. “Explore Everything”![ez] http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=975 'Danish Editor burnt alive' The editor of the Danish newspaper ‘Jyllands Posten’ was burnt to death when a fire mysteriously broke out in his bedroom, a Saudi newspaper claims. According to the newspaper, the editor was sleeping in his bedroom when the fire ravaged his bedroom. He and his newspaper became controversial when it had published blasphemous caricatures of Prophet Muhammad (PBUH). The paper claims that the Danish govt is trying to cover up the news of the death. He was hit by divine retribution, the paper added. Muslims, all over the world, strongly denounced this blasphemous act and massive protests were held in all Muslim countries including Pakistan. Text messages and emails that claim that the editor or the cartoonist has been burnt alive have also been circulating since Tuesday, lending support to this report. The paper named the editor as Elliot Back. However, Back is merely a senior in Computer Science at Cornell University, who had published the caricatures on his website. Name of the culture editor of Jyllands Posten, who commissioned the caricatures, is Flemming Rose. Jens Julius is the name of one of the cartoonists that drew the images. There were 12 cartoonists in all, who according to the BBC have gone into hiding. – NEWS DESK http://www.nation.com.pk/daily/june-2006/15/index12.phpFrom: PI-PK-A@yahoogroups .com [mailto:PI-PK-A@yahoogroups .com] On Behalf Of pipka kewanitaan pks Sent: Saturday, April 19, 2008 6:35 PM To: pi-pk-a@yahoogroups .com Subject: PK Sejahtera [ )|( ] REMINDER !! LOMBA MENULIS MENYAMBUT HARI KARTINI PIP-PKS AMERIKA UTARA LOMBA MENULIS MENYAMBUT HARI KARTINI PIP-PKS AMERIKA UTARA Dalam rangka memperingkati Hari Kartini tahun 2008 serta MILAD PKS yang ke 10, kami Bidang Kewanitaan PIP-PKS Amerika mengadakan Lomba Menulis bagi masyarakat Indonesia di manapun berada Untuk itu kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/ Saudari untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut. Adapun ketentuan lomba adalah sebagai berikut: I. Kategori Lomba 1. Fiksi, bentuk tulisan : Cerita pendek (Cerpen), 2. Non-Fiksi, bentuk tulisan : Essai / Artikel II. Tema Utama 1. Fiksi : "Rona Dunia Wanita" 2. Non-Fiksi : "Mengoptimalkan Peran Perempuan Indonesia di Luar Negeri" III. Kriteria Penulisan 1. Tulisan dikirim dalam file Microsoft Word 2. Panjang tulisan 3-10 halaman A4, spasi 1.5 , dengan margin kiri dan atas 4, dan margin kanan dan bawah 3. Jenis huruf Times News Roman dengan ukuran 12. 3. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, 4. Tulisan adalah karya sendiri, bukan saduran, atau terjemahan, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba dan atau dipublikasikan dalam bentuk apapun, 4. Tulisan diterima panitia paling lambat tanggal 9 Mei 2008, 5. Tulisan dialamatkan ke: kewanitaanpipka@ yahoo.com. dengan menyertakan identitas diri meliputi : nama , alamat , no telepon dan e-mail IV. Persyaratan Umum 1. Peserta adalah pria dan wanita berusia minimal 17 tahun 2. Peserta diperbolehkan untuk mengikuti dua (2) kategori lomba, 3. Tulisan yang masuk menjadi milik panitia dan panitia berhak untuk mempublikasikannya sesuai ketentuan yang ditetapkan, 4. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat. V. Kriteria Penilaian 1. Non Fiksi melingkupi : a. Kesesuaian dengan tema lomba b. Unsur kebaruan/Inovasi (bukan saduran atau terjemahan) c. Penggunaan EYD yang benar dan baik d. Solusi dan analisa 2. Fiksi melingkupi : a. Kesesuaian Tema b. Unsur kebaruan c. Alur cerita d. Gaya bahasa V. Pengumuman Pemenang Pemenang akan dimumkan pada tanggal 23 Mei 2008 di mailing list pipka@yahoogroups. com atau di http://www.pk- sejahtera. us VI. Hadiah Hadiah untuk masing-masing kategori : - Juara I : US $ 100, - Juara II : US $ 75, - Juara III : US $ 50. VII. Juri 1. Fiksi : - Ustadz Syamsi Ali (Penulis , Imam Masjid Jamaica New York), - Sofie Dewayani (Penulis , Anggota FLP Amerika). 2. Non-Fiksi : - Adi D Adinugroho ( Ketua FLP Amerika) - Agung Setia bakti (Jurnalis Suara Merdeka ) - Aria Prima Novianto (Penulis, Pengurus DPW PIP-PKS Amerika Utara bidang Kajian Strategis) Demikian undangan ini kami sampaikan, atas partisipasinya kami ucapkan terimakasih, Jazakumullah khairan katsiran. Wassalamu'aliakum warrahmatullahi wabarrakatuh. Bidang Kewanitaan PIP-PKS Amerika Serikat dan Canada Nb : Mohon disebar di milis milis. Assalaamu'alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu Ustadz yang saya hormati, alhamdulillah, di tengah berlanjutnya (entah sampai kapan?) polemik demokrasi di kalangan umat Islam, pasangan calon dari parpol Islam yang lahir dari kawah reformasi, "berhasil" meraih kemenangan di salah satu pilkada terbesar di Indonesia. Melihat pemaparan Ustadz tentang lembaga pendidikan yang jadi almamater salah satu calon, optimisme saya semakin tumbuh bahwa memang kapabilitas beliau "jaminan mutu." Banyak sementara ini (dalam waktu singkat begiut quick count diumumkan) analisis yang dikemukakan pengamat sampai orang awam. Bagaimana analisis/apresiasi Ustadz terhadap (sebab2) kemenangan kombinasi Ustadz-Artis itu serta pelajaranyangbisa diambil? Bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam menyikapi teraihnya kemenangan kepemimpinan? Apakah dengan hamdalah atau istighfar? Apa sujud syukur atau tangis? Ataukah lebih dari sekedar itu? Bagaimana juga tuntunan Islam terkait peran rakyat sebagai yang dipimpin? Apa sajakah peran signifikan yang bisa dilakukan untuk perubahan setelah mencoblos di bilik suara? Terus, apakah bisa jadi, terkait tingginya golput, itu merupakan bukti keberhasilan dakwah HT dan Salafy? Terakhir, semoga Ustadz senantiasa bertulushati memberi taushiyah langsung kepada sang Uztadz Gubernur kelak, kan sekalian juga jadi arena praktikum nyata kuliah-kuliah Politik Islam di kampus...(afwan, bukan bermaksud lancang). Jazakumulah khayran katsiira... Wassalaamu'alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu. Zakaria Ahmad Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Al-Ustadz Ahmad Heriyawan, Lc, sang peserta PILKADA JABAR yang disebut-sebut akan menjadi Gubernur Jawa Barat memang lulusan dari LIPIA. Kami secara pribadi memang mengenal beliau, bukan semata-mata karena satu almamater, tetapi memang beliau teman kami dalam berdakwah, sejak tahun 90-an. Bahkan beliau yang asal Sukabumi pernah mengajak kami ziarah ke kampung halamannya, bertemu dengan keluarga dan murid-murid beliau. Kami berdakwah bersama dan mabit bersama. Meski beliau telah lulus terlebih dahulu, karena memang beda angkatan kuliah cukup jauh. Yang kami kenal dari pribadi beliau adalah bahwa beliau orang baik, lulus LIPIA dengan nilai yang juga memuaskan. Pemahaman syariah beliausangat baik, tentunya beliau sangat fasih berbahasa Arab dan melek literatur kitab gundul, selain itu beliau juga seorang pembelajar yang cepat. Jarang-jarang ada lulusan LIPIA yang bisa dengan cepat belajar bidang kehidupan lainnya. Dan ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD DKI, tentu sebuah loncatan yang cukup besar, karena ilmu yang beliau terima secara formal dari bangku kuliah tentu saja tidak pernah mengajarkan dinamika kehidupan seorang wakil rakyat. Diskursus: Dakwah Inside atau Outside? Yang kami pahami dari apa yang sedang diupayakan oleh beliau dan teman-teman adalah memperjuangkan tegaknya nilai agama Islam lewat jalur internal kekuasaan. Ini yang kami sebut kemudiandengan teori 'dakwah inside'. Pada dasarnya tidak ada yang menampik pentingnya umat Islam berjuang di wilayah ini. Dan tentunya akan jauh lebih efektif ketimbang sekedar berjuang dari luar (Ouside), yang jangkauannya hanya sekedar menghimbau kepada penguasa, atau sekedar mengkritik, memberi masukan, atau sekedar bersorak sorai, ibarat penonton sepak bola. Kadang-kadang tepuk tangan para suporter di pinggir lapangan memang dibutuhkan, untuk memberi masukan dan semangat. Akan tetapi pada akhirnya, permainan akan sangat tergantung dari para pemain yang ada di lapangan. Perjuangan umat Islam sejak dulu masih sebatas penonton yang bersorak sorai dari pinggir lapangan. Aspirasi mereka paling jauh hanya dititipkan kepada orang-orang yang mereka kenal sepintas, tanpa punya visi dan idealisme yang jelas. Maklumnya, kancah politik memang diisilebih banyakoleh kalangan oportunis yang sekedar mengejar keuntungan sesaat. Maka teori dakwah sebagian teman-teman kita itu adalah masuk langsung ke kancah politik praktis. Atau istilahnya 'mengambil alih' lapangan dari yang tadinya hanya sekedar menjadi penonton di pinggir garis lapangan. Logikanya sederhana saja, yaitu masuk ke dalam, ambil alih dan perbaiki dari dalam. Jauh lebih sederhana dari pada bikin negara baru yang tentunya merupakan makar dan subversi. Dakwah Outside Namun jugaharus diakui bahwa teori seperti ini masih seringkali diperdebatkan oleh banyak kalangan. Sebagian kalangan muslim ada yang apatis, seperti yang anda sebutkan, yaitu Hizbut Tahrir, Salafi atau kalangan lainnya. Sikap apatis mereka ini mungkin bisa diterangkan begini: rumah ini sudah sangat rusak dan hanya barang rongsokan, dari pada diperbaiki yang akan membutuhkan resourses besar, mendingan dirobohkan sekalian, lalu dibikin lagi dari awal bangunan baru. Mereka ini kita sebut sebagai aliran atau mazhab Outside. Fenomenanya, banyak dari mereka yang tidak mau ikut pilkada atau pemilu, karena mereka menganggap bahwa pekerjaan memperbaiki rumah rongsok akan sia-sia saja. Tentu semua itu adalah pilihan, atau kalau dalam istilah fiqih yang akrab di telinga kita, semua itu adalah ijtihad. Yah, namanya ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Tentu masing-masing mazhab punya hujjah dan argumentasi. Dan tidak layak buat kita untuk mencaci maki pihak yang punya ijtihad berbeda dengan ijtihad kita sendiri. Apalagi kita tahu bahwa masing-masing ijtihad itu punya konsep, hujjah, metodologi dan juga pendukung. Tentu akan menjadi lucu kalau kita malah berantem dan bermusuhan dengan sesama muslim, hanya lantaran ijtihadnya berbeda. Kalau dalam ilmu fiqih ibadah kita bisa bertoleransi, lalu kenapa dalam fiqih politik kita agak gamang untuk bertoleransi. Pro Kontra Terus terang ketika Al-Akh Heriawan mulai nampak unggul dalam Quick Count kemarin, kami sempat ngobrol lewat chating dengan beberapa pihak yang selama ini boleh dibilang agak mewakili kalangan yang ijtihadnya berbeda. Komentar mereka beragam, ada yang bilang bahwa kemenangan HADE itu hanya karena faktor Dede Yusuf yang seorang aktor, yang lain bilang bahwa itu hanya sebuah fenomena anomali saja, yang lain bilang itu istidroj, entah maksudnya apa. Dan yang lainnya lagi bilang bahwa 'kemenangan' itu karena faktor 'lucky', lantaran para mesin kampanye pesaingnya kurang tenaga. Tentu kami bisa memaklumi komentar-komentar seperti ini, karena wajar saja mereka bilang begitu, sebab secara ijtihad, mereka memang tidak mendukung hasil ijitihad Al-Akh Heriyawan dan teman-temannya. Tapi kemenangan mereka sebenarnya memang boleh dibilangcukup mengejutkan. Yang merasa terkejutbukan hanya di kalangan 'seberang jalan', tapi juga di kalangan 'rumah sendiri'. Awalnya memang banyak yang merasa miris atau malah sangat pesimis, tapi ketika hasil malah menang, diskusi jadi semakin hangat. Jalan Tengah Kalau melihat dua sisi pendakatan yang berbeda dari sesama para aktifias dakwah, rasanya kita perlu sebuah jalan tengah. Jalan tengah ini bukan plin-plan, tetapi justru tidak fatalis. Tidak secara ekstrim menolak satu pendapat dan juga tidak secara sepenuhnya mendukung satu pendapat. Setidaknyamenurut anggapan kami yang terbaik adalah kita mencari jalan tengah. Bentuknya mendukung yang sekiranya memang perlu didukung dan menahan apa yang sekiranya perlu ditahan. Tidak ekstrim dan pasrah bongkokan. Kita harus menghormati setiap ijtihad yang berkembang, tanpa harus bersikap negatif atas apa yang sekiranya berbeda. Dengan beberapa tekad kuat di dalam dada yang harus kita tanam, antara lain: 1. Menghindari Berbantah-bantahan Dengan Sesama Duat Kalau kita kita tidak berhenti dari berdebat dan berbantah-bantahan dari tema inside dan outside ini, maka lama kelamaan kita sendiri yang akan perang saudara. Bukannya berjuang menegakkan dakwah, kita malah jadi pembangkang nilai agama kita sendiri. Dahulu para shahabat nabi juga pernah berbantah-bantahan seperti ini. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena sudut pandang mereka tidak jadi satu. Maka dari langit turun taujih rabbani: Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfa: 46) Jangan sampai kita malah berakhlaq yahudi, dengan asyiksaling berbantahan sendiri dengan sesama pejuang dakwah. Sementara Al-Quran menceritakan bagaimana dahulu Bani Israel berbantah-bantahan sesama mereka, yaitu pada saat genting di mana mereka harus menghadapi kekuatan Fir'aun. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan. (QS. Thaha: 62) 2. Berhenti Dari Saling Mencela Berbantah-bantahan di atas kalau tidak segera dihentikan, biasanya akan menjalar menjadi saling caci, saling cela, saling maki dan saling menghina. Akan sangat disayangkan kalau majelis-majelis taklim yang awalnya digunakan untuk mempelajari ilmu Allah dan sunnah Rasul-Nya, kadang ganti channel menjadi kajian untuk menjelek-jelekkan tokoh yang dianggapnya berseberangan ijtihad politik. Majelis yang seharusnya didengar di dalamnya firmanAllah, jangan sampaiberubah jadi majelis untuk mendengarkan perkataan manusia, lengkap dengan hawa nafsunya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11) 3. Hindari Prasangka Buruk Terkadang sikap yang sangat ekstrim lahir dari prasangka buruk antar sesama pejuang dakwah. Yang satu menuduh temannya salah, yang dituduh tidak terima, balas menuduh saudaranya salah. Yang satu menuduh bahwa dakwah lewat jalur politik hanya sekedar kedok belaka, padahal sebenarnya semata-mata hanya kepentingan duniawi, bergelimang dengan harta, pamer kemewahan, mengikuti hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan atau nafsu 'kawin lagi'. Yang dituduh tidak terima, lalu bereaksi dengan segala improvisasi yang sekiranya memuaskan rasa ketersinggungannya. Dan ganti menuduh bahwa para penuduhnya adalah 'barisan tua' yang sakit hati karena tidak punya potensi. Pendeknya, prasangka buruk itu memang ajaib, sekali satu pihak melontarkannya, maka akan langsung meletup menyambar-nyambar ke sana kemari, persis bensin dilempari puntung rokok. Padahal kita masih aktif membaca Al-Quran, dan salah satunya yang masih terngiang saat kami menuliskan tulisan ini menjelang adzan shubuh adalah firman Allah berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12) Sebagai muslim, kami agak merinding kalau mendengar ayat ini, sebab permisalan yang Allah SWT gambarkan memang sadis sekali. Ketika kita berburuk sangka kepada saudara kita, lalu menggunjingkannya, atau mencari-cari titik kelemahannya, kita dikatakan seperti sedang memakan daging saudara kita itu. Benar-benar kanibal akhlaq seorang muslim ketika melakukannya. Pesan Buat 'calon' Gubernur Kami memang agak lama tidak bertemu langsung dengan Al-Akh Ahmad Heriyawan, mungkin karena kesibukan masing-masing. Tapi lepas dari kami ikut mazhab yang mana, apakah inside atau outside, namun sebagai muslim, beliau adalah saudara kami. Kalau seandainya jabatan Gubernur Jawa Barat itu memang jadi dibebankan ke pundaknya, tentu saja kami yakin beliau tidak akan menyebutnya sebagai kenikmatan. Kami yakin beliau akan menyebutnya amanat, beban, taklif, dan tentunya sebuah pertaruhan besar. Bagaimana tidak, beliau akan bekerja under preassure. Dan tekanan itubukan saja dari kalangan 'seberang jalan', tetapi juga dari dalam 'rumah sendiri'. Maka beliau sekarang ini ibarat orang berjalan di atas titian rambut dibelah tujuh. Maka sebagai muslim, ada beberapa tips yang mungkin beliau akan bisa mempertimbangkannya. Misalnya: 1. Pola Hidup Sederhana Beliau lahir dari kalangan orang biasa, bukan orang yang kaya raya. Jadi kalau sekedar berpola hidup sederhana, merakyat, dan dekat dengan kalangan bawah, tentu bukan masalah besar. Kami masih ingat ketika dahulu sama-sama makan di warteg karena kelaparan. Jadi kalau sekarang sering-sering makan di warung makan rakyat, dengan lauk seadanya, pasti bukan hal yang sulit. Cerita tentang Said bin Amir, Gubernur Himsh di masa khilafah Umar bin Al-Khattab, yang hanya punya satu baju, pasti pernah beliau baca. Karena kisah itu ada di buku Al-Arabiyyah lin Nasyiin jilid 5. Sebuah kitab pelajaran bahasa Arab yang menjadi pegangan semua mahasiswa LIPIA di masa itu. Kenapa kami mulai dari gaya hidup sederahana? Karena boleh jadi janji beliau untuk mensejahterakan rakyat tidak kesampaian, karena ruwetnya birokrasi yang sudah jadi mafia tersendiri. Pada saat rakyat kelaparan, maka kalau pak Gubernurnya juga ikut kelaparan, rakyat pun akan memaklumi. Tapi kalau rakyat kelaparan, sementara mereka lihat pak Gubernur lagi asyik makan-makan dengan kolega di restoran mewah di Bandung, itu namanya mushibah kubro. Maka sesekali bikin sensasi tidak mengapa, kan? Misalnya, beliau menerima tamu bukan di kantor Gubernur, tapi di tengah rumah-rumah kumuh rakyat Jawa Barat, atau di tengah timbunan sampah yang menggunung dan pernah memakan korban di Bandung. Di sanalah seharusnya pak Gubernur berkantor, yaitu di tengah problem yang sebenarnya. Jangan kalah dengan Ahmadinejat yang konon rumahnya berdinding bata tanpa plesteran. Dan tidak perlu ke Iran untuk sekedar mencari tokoh pujaan, wong di negeri sendiri juga ada. Bisa bahasa sunda lagi. 2. Perang Lawan Mafioso Membangun SDM Sudah bukan rahasia lagi bahwa pusat penyamun di negeri ini bukan di daerah kumuh, tapi justru adanya di pusat pemerintahan. Perampok, penjahat, kriminalis, penodong, penjarah dan penipu tidak berkumpul di dalam penjara, tapi mereka justru berada di pusat-pusat kekuasaan. Jadi Al-Akh Heriayawan dan Dede Yusuf akan dikelilingi oleh para gembong mafioso, yang berpengalaman puluhan tahun, bahkan turun temurun. Kalau perlu dengan hasil penjarahan mereka selama ini, Jawab Barat bisa dibeli. Pilihannya ada tiga: ikut bergabung jadi bagian integral dari gabungan para mafia itu, atau perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan, atau main mata dan setengah-setengah. Kita belum tahu apa jurus yang akan dipakai, dan mana pilihan yang akan disepakati. Seharusnya sih pilihan kedua, yaitu perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan melawat para mafia. Pecat dan bubarkan gerombolan mafioso birokrasi itu dan siapkan penjara. Potong sampai ke akar-akarnya, biar tidak tumbuh lagi. Tapi karena tingkat dukungan yang mereka punya tidak maksimal, boleh jadi semua kebijakan dan itikad baik mereka 'diveto' oleh teman-temannya para mafia. Nah, ini berarti tantangan tersendiri. Pilih perang Bubat atau main mata. 3. Membangun SDM Tapi satu hal yang perlu dipikirkan segara adalah membangun SDM secara khusus untuk menjadi pegawai pemda Jawa Barat ke depan. Para mafioso tidak akan berkutik kalau para pegawai pemdanya bukan orang, tapi 'malaikat', setidaknya 'setengah malaikat'. Sehebat-hebatnya dan seustadz-ustadznya sang Gubernur, kalau pegawai pemdanya masih 'orang', pasti akan berputar-putar dan jalan di tempat. Prinsipnya, ganti dulu pegawai pemda dengan bukan orang, tapi 'malaikat'. Dari mana bisa didapat malaikat di abad 21 ini? Dari langit? Tidak, wujud pisiknya tetap manusia, tapi hatinya yang malaikat. Dan orang-orang jujur dan baik serta bermoral masih ada di penghujung kiamat ini. Carilah mereka, sejak dari masih bibitnya. Kuliahkan mereka di sebuah kampus khusus untuk mencetak bibit unggul dakwah, yang secara khusus nantinya akan menjadi pegawai pemda. Idealnya kampus mereka berisi mahasiswa unggulan dengan IPK tertinggi se Jawa Barat, diajar oleh para doktor ahli syariah, para huffadz (penghafal Quran), para muhaddits (ahli hadits), para pakar ahli hukum tata negara, dan beragam ilmu lain yang diperlukan. Tentunya materi akhlaq, moral, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian kepada rakyat miskin menjadi 'mata kuliah' MKDU. Menyebutnya gampang, pokoknya yang tidak ada di IPDN. Diharapkan nantinya akan lahir PNS-PNS yang 'setengah malaikat', yang tidak doyan duit tapi doyan pahala. Yang mentalnya digodok seperti Umar bin Al-Khattab dan para gubernurnya. Yang terobsesi untuk punya 'baju satu kering di badan'. Yang tidak mempan sogokan karena isterinya pun tidak doyan belanja. Yang akan mematikan lampu kalau bicara urusan di luar kepentingan negara, karena minyak lampu itu dibiayai negara. Yakinlah bahwa kampus seperti ini bisa diciptakan, asalkan punya tekat kuat. Tidak boleh ada orang jadi pegawai Pemda kecuali telah lulus dari kampus ini. Dan tidak ada yang lulus kecuali telah menjadi 'setengah malaikat'. Pegawai negeri biasa jelas tidak bisa diandalkan, apalagi hanya dengan cara diseleksi lewat psikotest yang buku jawabannya dijual bebas di toko buku. Sama sekali tidak ada jaminan moral dan jiwa kepemimpinan. Sejak sebelum masuk jadi PNS sudah berhutang duit banyak untuk menyogok, dan ketika sudah jadi PNS maka misi utamanya adalah bayar hutang plus keuntungan. Bejat dan bejat sangat. 4. Segera Bayar Hutang Secara Cash Kalau tidak salah biaya kampanye pilkada sampai 12 milyar, setidaknya itu yang dikemukakan ke muka pers. Pertanyaannya, uang sedege itu pasti ada taruhannya plus 'harapan'. Logikanya, sangat tidak mungkin ada pihak yang mau membiayai dana sebesar itu kalau bukan ada apa-apanya di belakang. Maka saran kami, segera saja bayar uang itu secepatnya, agar si investornya tidak minta ini dan itu. Sebabyang berbahaya justru tagihan minta ini dan minta itu dari para investor. Inilah yang membuat penguasa sekarang sangat gamang ketika bertindak, karena 'terjerat' hutang kepada para pedagang. Banyak rejim penguasa tidak berani bertindak tegas kepada para pedagang, karenaberhutang budi kepada para pedagang yang dengan 'tidak ikhlas' telah memodali biaya kampanye. Tentu kompensasi adalah harapan para pedagang, dan itu akan sangat mengganggu kinerja penguasa. Jadi saran kami, bayarkan secepatnya hutang kepada para pedagang mereka, dan setelah itu pecat mereka semua secepatnya. Biar tidak mengganggu stabilitas kebijakan dalam kepemimpinan ke depan. Biar tidak ada lagi 'main mata' dengan para pengusaha nakal dan liar itu. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc http://eramuslim.com/ustadz/pol/8414214211-ahmad-heriyawan-ustadz-jadi-gubernur.htmTayangan televisi akhir-akhir ini yang banyak menonjolkan adopsi perilaku dan norma bangsa barat akhirnya mendapat kritikan dari Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Jusuf Kalla menyatakan bahwa tayangan televisi Indonesia selama ini banyak menyiarkan program yang tidak baik. Wapres mencontohkan banyaknya berita kekerasan, selain itu tayangan sinetron berbau seks, mistis dan juga kekerasan, yang disaksikan ratusan juta masyarakat Indonesia. Menurut hitungan KPI, tambahnya, setidaknya 75 persen penduduk Indonesia setiap harinya menyaksikan siaran televisi. Artinya dari 220 juta penduduk ada sekitar 150 juta orang setiap hari menyaksikan televisi. "Jadi 150 juta orang matanya memelototi televisi. Artinya tiap malam tergantung apa yang diproduksi oleh televisi kita, " katanya saat menghadiri puncak acara Penghargaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Jakarta, Selasa. Karena itu, lanjut Wapres, jika televisi terus menerus memproduksi kekerasan dan ketakutan, tentu akan menghasilkan kekerasan dan ketakutan juga. Ia mengharapkan agar tayangan yang dihasilkan adalah yang memberikan nilai positif. "Tentu yang kita harapkan berita yang sehat walaupun tetap kritis. Tayangan yang menarik bukan yang membikin ketakutan, " kata Wapres. Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden mengajak insan televisi Indonesia menghasilkan karya-karya yang bermutu baik dan positif, yang enak ditonton, karena tayangan televisi yang bermutu baik itu akan meningkatkan kemajuan bangsa. "Ciptakan tayangan-tayangan yang positif, karena hanya dengan berfikir positif bangsa ini akan maju, " imbau. Ia mengingatkan para pengusaha di bidang pertelevisian, jika yang ditayangkan adalah yang ciptakan ketakutan, justru akan mematikan industri televisi itu sendiri. Karena akan membuat orang luar takut berinvestasi ke Indonesia. Dan pada gilirannya investasi tidak akan berkembang, karena tidak adanya iklan. "Saya sependapat bahwa tayangan yang baik juga enak ditonton. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, " imbuhnya. Penghargaan KPI diberikan dalam lima kategori yakni talkshow, dokumenter, sinetron, berita, dan tayangan anak-anak.(novel/ant) http://eramuslim.com/berita/nas/8319094336-wapres-tayangan-televisi-banyak-tidak-baik.htm| Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | KRII |
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebagai bagian dari langkah membangun media edukasi bagi negeri, Komunitas Rumah Ilmu Indonesia ( http://groups. yahoo.com/ group/rezaervani) berencana menerbitkan buku pertama dalam upayanya merintis sebuah penerbitan komunitas. Untuk itu kami mengundang sahabat sekalian untuk mengirimkan naskah terbaiknya ke Proyek Penerbitan Rumah Ilmu Indonesia via email di penerbitan@rezaerva ni.com Naskah yang kami cari untuk diterbitkan adalah yang bertemakan : 1. Inovasi Pendidikan 2. Guru dan Siswa 3. Tulisan ringan seputar nilai-nilai Islam 4. Materi Training dan Pengembangan SDM berbasis nilai Quran 5. Budaya 6. Tulisan Non Fiksi lain yang sesuai dengan visi Rumah Ilmu Indonesia (termasuk tulisan seputar perpustakaan, teknologi informasi, fisika populer, biologi ppuler) Naskah yang diprioritaskan adalah yang Berbahasa Indonesia. Mohon lampirkan pula Biodata Penulis secukupnya bersama dengan naskah. Untuk saat ini kami hanya menerima kiriman naskah via email : penerbitan@rezaerva ni.com Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi penanggung jawab proyek Penerbitan Rumah Ilmu Indonesia, Aditya di nomor HP 085624185531 dan/atau Siti Nadiroh di 081563114468 Perkembangan komunitas Rumah Ilmu Indonesia dan pemberitahuan lainnya bisa diikuti di http://groups. yahoo.com/ group/rezaervani Kami tunggu karya terbaik anda. Salam, Rumah Ilmu Indonesia www.rezaervani. com dari milis FLP saya senang baca Taufik Ismail dan Chrisye.. Di bawah ini salah satu kenangan Pak Taufik kepada Chrisye.. ------------
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON. Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA
TaUFIQ ISMAIL
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* * *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #
Ketika Tangan dan Kaki Berkata Lirik : Taufiq Ismail Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci Kata tak ada lagi Akan tiba masa tak ada suara Dari mulut kita
Berkata tangan kita Tentang apa yang dilakukannya Berkata kaki kita Kemana saja dia melangkahnya Tidak tahu kita bila harinya Tanggung jawab tiba
Rabbana Tangan kami Kaki kami Mulut kami Mata hati kami Luruskanlah Kukuhkanlah Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia Kepada kami HambaMu yang hina 1997 Adakah Buku di Dalam Diri Anda?
Kami tahu ada buku di dalam diri Anda. Is there book inside you? Jika demikian, silakan keluarkan dalam bentuk naskah-naskah berikut ini:
· Parenting dan Kewanitaan · Pengetahuan Populer (Keterampilan Hidup) · Spiritualitas Islam Populer · Pengembangan Diri dan Pengembangan Spiritual · Kiat (How to Books) · Anak dan Remaja · Kesehatan dan Gaya Hidup · Referensi · Fiksi Umum dan Spiritual (khusus novel)
Kami, Cicero Publishing, membuka diri untuk mengolah dan mengemas naskah Anda menjadi buku yang berdaya. Benefit bagi penulis adalah · Sistem royalty dari nilai netto; · Sistem outright atau flat fee; · Advance fee pada awal kontrak;
Naskah Anda adalah komitmen kami. Kirimkan segera naskah Anda ke:
Cicero Publishing Jl. Pondok Niaga Hijau II, 46, Pondok Pinang, Jakarta 12130 Telp. 021 766 4969 email : ci_publishing@ yahoo.com
Naskah dikirim dalam bentuk file elektronis dan hardcopy dengan ketentuan: · Font standar 12 pt (Times Roman) · Spasi normal 1,5 spasi · Dicetak satu muka dengan kertas HVS ukuran A4 dan setiap halaman diberi nomor halaman · Surat penawaran dan biodata singkat penulis
Sinopsis naskah
Posted by: "Kawakib Sam" ci_publishing@yahoo.com ci_publishing Wed Dec 26, 2007 1:07 am (PST)
pencintabuku.multiply.com  Kampanyekan Islam Itu Damai, Indah, dan Mandiri (20 Nov 2007, 309 x , Komentar) Mudzakkir M Arif, MA, Pimpinan Ponpes Darul Istiqamah Maccopa Maros MEMASUKI usia ketiga puluh, lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah Pondok Pesantren Darul Istiqamah (DI) Maccopa Maros mendapat penghargaan Ketahanan Pangan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Ini menjadi bukti, eksistensi salah satu ponpes tertua di Sulsel ini mengalami perkembangan pesat. Bukan pada pelebaran sayap dengan membuka cabang baru semata, tapi juga membangun paradigma baru peran pesantren di tengah masyarakat.Kepada Yusuf Said, wartawan Fajar di Jakarta, Pimpinan Ponpes Darul Istiqamah Maccopa, Mudzakkir M Arif, MA, membeberkan pentingnya pembaruan paradigma peran ponpes di tengah masyarakat. Berikut petikannya: Bisa Anda ceritakan bagaimana sejarah berdirinya Pesantren Darul Istiqamah Maccopa? Pesantren Darul Istiqamah Maccopa adalah lembaga pendidikan Islam dan dakwah Islamiyah yang konsen pada pembinaan umat, pembinaan pribadi muslim, rumah tangga muslim, dan masyarakat muslim. Pesantren ini didirikan oleh almarhum KH Ahmad Marzuki Hasan pada tahun 1970. Pesantren ini kemudian terbentuk dan dikembangkan oleh tujuh orang santri pertama yang tinggal serumah dengan pendiri. Awalnya, pesantren dibangun di atas tanah setengah hektare. Lalu, berkembang pesat, namun tetap berorientasi pada pembinaan kader dai yang rela berjuang dan berkorban untuk dakwah Islamiyah. Perkembangan pesat seperti apa itu? Dalam waktu yang relatif singkat, Maccopa membangun beberapa cabang di Sinjai, Palopo, Luwu, Bulukumba, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara (Manado), Sulteng (Banggai), Sorong Papua, serta di Jakarta. Jumlahnya 28 cabang. Untuk Maccopa, perluasan kampus pesantren besar-besaran. Tanah yang setengah hektare saat ini sudah 65 hektare. Itu berkat kemampuan Maccopa menjalin hubungan dengan pemerintah, swasta, lembaga-lembaga Islam, di dalam dan luar negeri, khususnya dengan LSM di Saudi Arabia dan Kuwait. Kenapa harus ada LSM Kuwait dan Saudi Arabia segala? Karena kami banyak mendapat bantuan utamanya dari kedua negara tersebut. Kuwait misalnya, membantu pembangunan 50 masjid dan pembangunan Al Markaz Al Islami di cabang-cabang. Juga ada yang berbentuk sekolah madrasah, poliklinik, perpustakaan, asrama dan sebagainya. Itu dilakukan di enam cabang ponpes Maccopa. Soal tongkat kepemimpinan Darul Istiqamah Maccopa sendiri, bagaimana? Mulai didirikan hingga 1979, masih dipimpin almarhum KH Ahmad Marzuki Hasan. Tahun 1979, beliau beralih ke Sinjai dan menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, M Arief Marzuki. Secara resmi, ayahanda saya Arief Marzuki memimpin mulai 1983. Lalu, mulai akhir 2003 lalu hingga sekarang, saya diamanahkan melanjutkan kepemimpinan. Saat ini ada berapa santri di Maccopa? Jumlah santri putra dan putri di Maccopa itu berkisar 1.200 orang. Digabung dengan di cabang-cabang, mencapai 3.500 santri, dengan jumlah guru 150 guru, serta dai dan daiah binaan kira-kira 200-an orang. Alumni se-Indonesia sendiri sudah mencapai 7.000 orang. Hal lain, menurut Anda bagaimana seharusnya lembaga pendidikan Islam mengambil peran di tengah masyarakat? Lembaga pendidikan Islam itu, termasuk di dalamnya pondok pesantren, seharusnya berorientasi pada pembangunan masyarakat. Juga mengambil peran sebagai mitra inti pemerintah untuk pembangunan. Bukan hanya di bidang spiritual, sebagaimana label pesantren selama ini, tapi juga di bidang material. Karena hanya dengan demikian, peran pesantren dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi jelas. Misalnya membangun budaya hidup bersih, silaturahmi, sehat, serta masyarakat produktif. Juga, harus menjadi tulang punggung membangun sinergitas antar-lembaga. Bagaimana menjaga peran itu? Pesantren atau lembaga dakwah lainnya harus mandiri dan bisa memberi contoh. Menjadi suri tauladan, begitu. Kami di (DI) Maccopa mencoba konsep itu. Maccopa tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga mengajarkan ilmu umum, membekali santri keterampilan sebagai bekal hidup mandiri. Kampus Maccopa tidak hanya dihuni santri dan guru, tapi juga ada warga. Berkisar 350 kepala keluarga, terdiri atas PNS atau karyawan swasta yang kerja di luar pesantren 30 persen, 30 persen guru dan dai, dan 40 persen selebihnya adalah petani, peternak, petambak, dan para tukang. Bagaimana menjaga stabilitas dari keragaman penghuni seperti itu? Kami membina masyarakat dan mencoba membangun masyarakat baru. Kami ingin mengampanyekan ajaran amalan Islam itu simpatik, damai, mandiri, dan indah. Bahkan, kami berobsesi menjadikan Maccopa sebagai pilot project sebuah karya dakwah perjuangan Islam penuh kedamaian dan keindahan. Pesantren juga mengembangkan ekonomi kerakyatan. Ada pasar, ada klinik, rumah bersalin, sekolah, usaha pertanian, peternakan, pertambakan, bahkan ada pekuburan untuk warga. Yang sedang kami kembangkan ini tampaknya mendapat penilaian pemerintah sehingga Maccopa dianugerahi penghargaan ketahanan pangan oleh Presiden. Alhamdulillah, ini tidak lepas dari kerja keras manajemen pesantren melakukan pengembangan berdasarkan analisis SWOT. Yaitu, menggali aspek kelebihan dan kekurangan pesantren, peluang serta ancaman yang ada ke depan. Lalu, bagaimana hubungan Maccopa dengan pihak eksternal, pemerintah, misalnya? Sangat harmonis. Satu contoh, sejak tahun 2005, kami dipercaya memimpin lembaga strategis keagamaan kabupaten Maros bernama Lembaga Syariah Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Dulu namanya Dewan Syariah Kabupaten Maros. Dihimpun dari berbagai golongan seperti Muhammadiyah, NU, DDI, serta sejumlah aliran tarekat di Maros. Jumlah anggotanya mencapai 30 tokoh masyarakat dan Islam. Alhamdulillah, kami menjalin hubungan yang sangat baik. Ada penilaian apriori bahwa lembaga Islam yang menjalin kerja sama dengan negara Timur Tengah dekat dengan terorisme, bagaimana Anda menanggapi sinyalemen negatif itu? Sesungguhnya phobia itu banyak terbangun karena media. Namun, media tidak boleh disalahkan sepenuhnya karena beberapa kasus memang ada bukti bahwa negara Timur Tengah menjadi donatur gerakan teroris. Tapi di sisi lain, ada juga bukti negara seperti Kuwait dan Saudi Arabia membangun dan membantu secara damai dan ikhlas untuk pengembangan agama di Indonesia. Makanya, perlu dilihat secara proporsional. Sebenarnya ada arogansi dan upaya pihak non muslim, utamanya Yahudi, untuk membatasi bantuan Timur Tengah kepada negara-negara Islam. Padahal, untuk Indonesia saja, Timur Tengah sudah membiayai ribuan anak yatim, dan membangun ratusan masjid. Ini memang membutuhkan sosialisasi kepada masyarakat, meski saya akui kalau isu ini tidak laris seperti larisnya isu terorisme. Bagaimana Anda melihat kaitan peran pesantren sebagai lembaga dakwah dengan maraknya aliran sesat? Hal ini sempat dibicarakan dengan pemerintah Maros bagaimana mengantisipasi aliran sesat, di Maros khususnya. Memang, pesantren serta lembaga dakwah lainnya harus aktif mengantisipasi dan menangkal maraknya aliran dan paham sesat di masyarakat. Namun harus diakui, dakwah kita belum cukup mencerdaskan masyarakat untuk dapat memilah mana yang hak dan mana yang bathil. Ini berarti belum efektif. Buktinya, aliran sesat apa saja yang muncul, selalu ada yang percaya. Seharusnya dakwah intensif yang dilakukan itu bisa efektif mengantisipasi aliran sesat. Usul kami, perlu ada langkah sistematis membangun pola pikir masyarakat Muslim, bagaimana seharusnya berpikir. Dalam langkah-langkah itu ada istilah yang kami harapkan bisa populer yaitu Imunisasi Akidah. Targetnya agar akidah masyarakat memiliki daya tahan dan kekebalan Jika berjalan baik, dan kami sudah punya 12 materi imunisasi akidah yang akan disosialisasikan secara bertahap di tengah-tengah masyarakat, maka masyarakat akan cerdas dan sanggup menangkal sendiri aliran atau paham sesat yang coba masuk. (keeppang@yahoo.com) Data diri : Nama : Mudzakkir M Arif, MA Kelahiran : Makassar, 13 Maret 1968 Pekerjaan : 1. Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Pusat 2. Ketua Lembaga Syari’ah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Kabupaten Maros Pendidikan : - Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah di Pesantren Darul Istiqamah - S1 Syariah LIPIA Jakarta, 1990 - S2 Ushuluddin Jami’ah Imam, Riyadh, Saudi Arabia, 1997 - Kandidat Doktor (S-3) UIN Alauddin Makassar Dakwah/Organisasi: - Peserta Training Kepemimpinan Islam Internasional di Kuala Lumpur-Malaysia, 1988 dan 1989 - Pemateri Daurah Mahasiswa Indonesia di Belanda dan Jerman, 1990 - Pembina Majelis Taklim Masyarakat Muslim Indonesia di Riyadh-Saudi Arabia, 1992 – 1997 - Mengisi Daurah Mahasiswa Indonesia di Mekah dan Medinah, 1992 – 1996 - Peserta Pertemuan Pimpinan Jam’iyah Ihya at-Turats al-Islami Kuwait se-Asia Tenggara di Thailand. - Dakwah Ramadhan di Singapura, 1999 - Dai Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia di Palembang. - Pemateri Daurah Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia di Sorong, Papua, 2002 - Ketua I Ikatan Dai Indonesia (IKADI), 2002 - Khatib Tabligh Akbar Ukhuwah Islamiyah I-VII. http://fajar.co.id/news.php?newsid=46323 Proses Penerbitan buku Oleh: Manik Praba Sumber: Penerbit.net
Bicara soal proses Penerbitan cukup panjang, tetapi saya gambarkan secara umum sbb:
- Misalkan anda sebagai pengarang ingin mengajukan naskah kumpulan puisi ke Penerbit A. - Yang anda ajukan cukup naskahnya dalam bentuk ketikan (misalnya Ms Word) dan bisa disertai print outnya agar memudahkan Penerbit dalam memproses naskah tsb. Penerbit biasanya memberikan banyak kemudahan bagi pengarang yg sudah banyak mengarang buku. Penerbit mau saja menerima kiriman naskah melalui email dsb. - Penerbit akan menentukan apakah naskah tsb layak diterbitkan dan kira2 dibutuhkan masyarakat (ada penilaian terhadap isi naskah maupun kwalitas/ bobot pengarangnya) - Lalu Penerbit akan mengontak pengarang dan membicarakan isi naskah maupun honor. - Sistem honor tergantung sistem yg dianut oleh Penerbit. Bisa bersifat langsam (seolah naskah tsb dibeli oleh Penerbit) dengan memberi harga pada naskah tsb, misalnya dibeli seharga Rp 3.000.000.- dan dibayar secara sekaligus atau bertahap. Tergantung pengajuan Penerbit dan disetujui oleh pengarang. Kerugian sistem ini bagi pengarang adalah: Penerbit bisa mencetak naskah tsb dalam jumlah banyak dan bisa dicetak beberapa kali, tanpa memberi honor tambahan lagi kepada pengarang. - Bisa juga dengan sistem Royalti dimana pengarang memperoleh persentase terhadap harga naskah/ buku tsb. Rata2 nilai royalti: 10% s/d 15% dari harga buku yang terjual. Pengarang2 yg sudah terkenal sering ditawari honor yang tinggi karena Penerbit yakin buku karangannya bakal laku keras. Misalnya: buku tsb akan dicetak sebanyak 5.000 buah/eksamplar dan dijual dengan harga Rp 15.000.- per eksamplar. Maka pengarang akan memperoleh honor (dianggap semua buku terjual): 10% x 5.000 x Rp 15.000.- Sering pembayaran ini pun dilakukan secara bertahap misalnya 1 x 3 bulan atau 1 x 6 bulan. Bila buku tsb dicetak ulang lagi, maka Penerbit membuat perjanjian lagi dan pengarang akan memperoleh royalti lagi. Biasanya Penerbit akan mengontak pengarang lagi untuk cetak ulang (karena bisa jadi pengarang tidak bersedia lagi dan mau pindah ke Penerbit lain).
Bila sistem honor telah disepakati bagaimana dengan naskah itu sendiri? Dengan menggunakan softcopy naskah yg diberikan dalam bentuk ketikan MsWord tsb, Penerbit akan mengolahnya dan mengatur layout serta membuat desain covernya. Desain cover bisa juga diajukan oleh pengarang bila pengarang juga seorang yg ahli dalam desain. Setelah desain cover dan layout isi buku telah selesai, maka akan dimulai proses cetak.
Proses cetak sering dimulai dengan mencetak contoh (dummy) dulu dan melihat hasilnya agar kelak tidak terjadi kesalahan besar. Setelah itu akan dilakukan proses cetak sejumlah yg diinginkan (misalnya: 5.000 buah buku).
Penerbit akan memberikan buku contoh hasil cetakan bagi pengarang untuk file pribadinya dan kemudian Penerbit akan melakukan pembayaran kepada pengarang sesuai Perjanjian yg telah disepakati/ditandat angani. Bila buku tsb ingin dicetak terus dan ternyata pengarangnya telah meninggal, maka perjanjian dan hak pembayaran royalti akan diberikan kepada ahli waris (istri/ anaknya) dan seterusnya Penerbit akan berurusan dengan ahli warisnya.
Penerbit akan menyebarkan buku tsb ke toko buku untuk dibeli oleh masyarakat.
Perjanjian Royalti adalah antara pengarang dan Penerbit, sedangkan Hak Cipta adalah Hak Pengarang yang bisa diurus oleh pengarang dengan mendaftarkannya ke Departement Kehakiman & HAM, Direktorat Hak Cipta.
Penerbit tidak mengurus Hak Cipta karena Hak Cipta adalah urusan pengarang (kecuali naskah tsb telah dibeli oleh Penerbit dan sepenuhnya menjadi hak milik Penerbit).
Tidak banyak buku yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang, biasanya buku2 yg sangat terkenal atau buku yg bakal dibutuhkan terus yg didaftarkan Hak Ciptanya oleh pengarang. Contohnya: buku cerita Wiro Sableng didaftarkan oleh pengarangnya ke Dept. Kehakiman & HAM.
Demikian gambaran singkat tentang penerbitan, royalti dan Hak Cipta.
Semoga bermanfaat.
-- Best Regard Erwin Arianto,SE ¤¨¤ë¥¦¥£¥ó ¥¢¥ê¥¢¥ó¤È Internal Auditor PT.Sanyo Indonesia Ejip Industrial Park Plot 1a Cikarang-Bekasi Anda Punya Naskah?
Penerbit Bumi Aksara Divisi Cerita Anak, mengajak anda untuk mengirimkan naskah ke redaksi.
Jenis Naskah;
a. Novel Anak b. Novel Anak Islami c. Dongeng Anak d. Kumpulan Cerita Anak e. Kumpulan Dongeng f. Cerita Bergambar g. Cerita Bergambar untuk Balita h. Edutivity i. Bacaan Anak; How to, Ilmu Pengetahuan, etc j. Cerita berseri k. Atau apa saja yang mampu menjadi inovasi bagi perkembangan buku anak-anak.
Format Naskah;
Naskah minimal 3 hal, kertas A4, dengan ilustrasi(diluar halaman) atau tanpa ilustrasi. Anda bisa mengirimkan Soft Copy atau Hard Copy-nya ke Alamat Berikut;
PENERBIT BUMI AKSARA JL. AREN III NO. 25 RAWAMANGUN-JAKARTA TIMUR 13220 TELP. 021-47865686, 4895803 e-mail; info@bumiaksara. co.id atau puisi_alnurani@ yahoo.com
Imran Laha Editor Jailolo adalah daerah yang tidak terlalu jauh dari rumah saya di tobelo halmahera utara..semoga nggak apa-apa di jailolo dan sekitarnya.. -- Jailolo – Gunung berapi Gamkonora di Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, Senin kemarin kembali mengeluarkan letusan beruntun yang cukup dahsyat disertai kepulan asap setinggi sekitar 900 meter. Akibat letusan itu, warga di enam desa di kaki gunung tersebut panik dan mengungsi. Gunung yang berjarak sekitar 90 kilometer atau dua jam perjalanan darat dai Jailolo, pusat pemerintahan Kabupaten Halbar itu, sebenarnya aktif sejak Minggu (8/7). Hanya, warga enam desa – yakni Desa Baru, Gamsungi, Adu, Ngawet, Jere, dan Nanas – masih menganggap gejala alam itu sebagai hal biasa. Warga mulai panik saat gunung tersebut mengeluarkan semburan api sekitar pukul 01.00 WIT kemarin. Dari arah puncak gunugn terdengar suara dahsyat beruntun hingga sore kemarin. Warga semakin panin panik saat beredar isu bahwa jarak sembuarn lava semakin dekat dengan permukiman di enam desa tesebut. Berdasar informasi yang diperoleh Malut Pos (Grup Indo Pos) dari sejumlah warga, sebelum mengeluarkan suara letusan keras, terdengar suara gmuruh sejak Minggu (8/7), sehingga warga waspada dan tidak tidur. “Mulai Minggu pagi, suara gemuruh terdengar sayup-sayup,” ungkap Martinus, salah seorang warga Desa Adu, Kecamatan Ibu Selatan, kepada wartawan saat mengungsi ke tempat lebih aman kemarin. Camat Ibu Selatan Julisu Marau menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan agar warga tetap siaga di tempat sebelum ada perintah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. “Kondisi di lapangan memang siaga satu, namun belum membahayakan. Saya sudah menginstruksikan melalui kepala desa agar warga jangan dulu mengungsi. Tetap siaga di tempat sampai ada perintah untuk evakuasi,” jelasnya setelah melaporkan kejadian tersebut ke Wakil Bupati Halbar Ir Penta Libela Nuara. Namun, instruksi camat itu tak dihiraukan warga. Sekitar 2.000 warga dari enam desa di Kecamatan Ibu Selatan memutuskan mengungsi ke desa tetangga. Yakni, Desa Tosoa, Kecamatan Ibu Selatan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pemukiman warga enam desa di kaki gunung itu. Dengan bekal dan harta benda seadanya warga yang sebagian besar ibu-ibu, lansia, serta anak-anak tersebut berjalan kaki karena terbatasnya angkutan. Di antara enam desa yang paling terancam, Desa Gamsungi merupakan desa yagn paling dekat dengan Gunung Gamkonora karena persis di baah kaki gunung tersebut. Hingga berita ini diturunkan tadi malam, belum diketahui jelas kondisi enam desa tersebut. Sampai siang kemarin, kepulan asap dan awan panas yang keluar dari Gunung Gamkonora sudah menutupi keenam desa itu, seingga jarak pandang pun terbatas. Satuan Pelaksana (Satlak PB) Pemkab Halbar melaporkan, letusan Gunung Gamkonora belum menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan harta benda milik warga, “Sampai sejauh ini, berdasar laporan, tidak ada korban jiwa maupun harta benda. Warga hanya mengungsi,” kata Kabag Infokom Setdakab Halbar Kalbi Rasyid kemarin. (Indo Pos/ACT) Kerjasama Eramuslim dan Aksi Cepat Tanggap Rekening : BSM Warung Buncit No. 0030124084 a.n. Eramuslim - ACT BCA Megamall Ciputat No. 6760303028 a.n. Aksi Cepat Tanggap - Eramuslim http://act.eramuslim.com/Dr. Abdulrahman Al-Qassas, seorang peneliti di Universitas Ummul Qura, Mekah, menyebutkan, kencing dan susu onta menyembuhkan hepatitis dan diabetes
Hidayatullah.com--Dalam salah satu hadis sahih, Rasulullah bersabda dan mengingatkan para sahabat bahwa air seni dan susu unta dapat menyembuhkan banyak penyakit di dalam perut.
Sejak beberapa tahun belakangan ini, sejumlah peneliti di Arab telah membuktikan bahwa kandungan zat dalam air seni dan susu unta dapat menyembuhkan sejumlah penyakit.
Dr. Abdulrahman Al-Qassas, seorang peneliti di Universitas Ummul Qura, Mekah, menegaskan lagi bahwa kencing dan susu onta dapat menyembuhkan beberapa penyakit, di antaranya hepatitis, penyakit gula (diabetes) dan penyakit kulit.
"Hasil penelitian mutakhir telah membuktikan bahwa air seni dan susu onta dapat menyembuhkan sejumlah penyakit," katanya di hadapan forum mahasiswa tingkat empat, seperti dikutip media setempat Jumat (6/7) kemarin.
Menurut dia, pengobatan tergantung dari kondisi pasien. "Ada yang hanya memerlukan air seni, dan ada pasien yang cukup dengan susu onta saja. Sebagian pasien perlu mendapat pengobatan dengan mencampur susu dan air seni onta," ujarnya.
Al-Qassas juga menyebutkan beberapa penyakit perut lainnya yang dapat disembuhkan dengan air kencing binatang yang sering juga disebut "safinah al-sahra" (kapal padang pasir) itu.
Dalam kesempatan itu, Al-Qasas menjelaskan secara rinci hadis-hadis Rasulullah SAW tentang khasiat air seni dan susu onta tersebut yang diperkuat dengan berbagai penelitian yang dilakukan para ahli belum lama ini.
Kalangan ulama Islam sejak lama telah mengumpulkan hadis-hadis yang berkaitan dengan tib (medis) dan memasukkan dalam katagori hadis-hadis mukjizat ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya lewat penelitian ilmiah mutakhir. [ant/www.hidayatullah.com]
sekedar ngelanjutin info dari milis FLP...
kesan saya untuk SCB: " Kebetulan dia pernah bacakan syairnya waktu Festival Puisi Internasional di Unhas, saya duduk pas di belakangnya...Saya liat-liat, saya ini orang...dia pake topi, kaos dan apa adanya...dan berjanggut...eh ternyata dia SCB! Pas naek di panggung, betul2 dia enerjik! Sukses buat sastrawan SCB!" ----
Release:
Seminar Internasional Sutardji Calzoum Bachri
Memperingati HUT ke-66 Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Yayasan Panggung Melayu mengadakan perhelatan acara bertajuk Pekan Presiden Penyair, 14-19 Juli 2007, yang pelaksanaannya dipusatkan di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Satu di antara agenda Pekan Presiden Penyair adalah Seminar Internasional Sutardji Calzoum Bachri. Seminar menghadirkan lebih dari sepuluh pakar sastra dari dalam dan luar negeri, membahas fenomena kepengarangan Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dari berbagai sisi dalam tiga sesi pembicaraan, yaitu "Penerimaan Warga Sastra Dunia terhadap Karya SCB", "Estetika Dalaman Karya SCB", dan "Posisi SCB dalam Peta Sastra". Pembicara yang direncanakan hadir adalah V. Braginsky/Irena Katkova (Rusia), Prof. Dr. Koh Young-Hun (Korea), Dr. Haji Hashim Bin Haji Abd. Hamid (Brunei Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato' Kemala (Malaysia), Dr. Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Henri Chambert-Loir (Prancis), Maria Emelia Irmler (Portugal), dan pakar dari dalam negeri adalah Dr. Abdul Hadi, W.M., Taufik Ikram Jamil, dan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Seminar akan diadakan pada Kamis, 19 Juli 2007, di Galeri Cipta II TIM, Cikini, Jakarta Pusat, dan diharapkan dihadiri sastrawan, seniman, pengamat sastra, kritikus/akademikus sastra, peneliti sastra, aktivis komunitas sastra, siswa, mahasiswa, guru, pelajar, serta masyarakat umum. Biaya pendaftaran seminar Rp200.000,00 dengan fasilitas yang didapat peserta adalah buku kumpulan artikel tentang SCB, kaos SCB, sertifikat, seminar kit, dan konsumsi. Pendaftaran akan dibuka pada 18 Juni-18 Juli melalui Kantor Arif Rahman Hakim komplek Taman Ismail Marzuki (021) 93861703, Yayasan Panggung Melayu Perum Beji Permai T-3 Depok (021) 7752144, Pusat Tamaddun Melayu Universitas Indonesia 081586487530, atau melalui presiden_penyair@ yahoo.com. Informasi lebih lanjut dapat ditanyakan melalui alamat email di atas atau kepada koordinator seminar, Amien Wangsitalaja 08164282866 (non-SMS).** *
Penyandang buta aksara di Indonesia diharapkan maksimal tersisa 7 juta pada 2009, dari saat ini 13 juta orang. "Kita komit mencapai target tersebut, bahkan kita menginginkan lebih cepat lagi," kata Ace Suryadi, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas usai membuka Rakor Pelaksanaan Program dan Kebijakan Dirjen PLS 2007 wilayah Timur. Menurut Ace yang didampingi Zaini Arony Sesditjen PLS, tingkat pencapaian pemberantasan buta aksara secara nasional cukup bagus. Jika pada 2004 masih tercatat 15,4 juta orang, pada 2005 turun jadi 14,6 orang dan pada 2006 ini kurang dari 13 juta. Dengan target pencapaian 1,6 juta per tahun praktis diharapkan pada 2009 nanti tersisa lebih kurang 7 juta. Maka pada 2015 nanti buta aksara di Indonesia menjadi nol porsen, sementara buta aksara dunia sebanyak 771 juta yang diharapkan berkurang setengah pada 2009 mendatang. Sejumlah provinsi dengan tingkat penyandang buta aksara cukup tinggi di antaranya, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Irian Jaya. Menurut Ace peran PLS ke depan harus lebih bermutu dan memiliki daya saing tinggi. "PLS ke depan akan menuju, membangun pendidikan definisi pemerintah tetapi dalam definisi masyarakat." Sementara itu menurut Zaini Arony, Diknas berencana menambah sejumlah lembaga baru Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP) yakni di Mataram, NTB, untuk BPPLSP Regional VII, BPPLSP di Kalimantan Selatan Regional VIII dan BPPLSP regional VI di Papua. "Ini bentuk revitaliasi kelembagaan untuk antisipasi upaya peningkatan mutu," katanya. BPPLSP ini merupakan suatu lembaga yang melakukan pembinaan terhadap Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan lembaga-lembaga lainnya yang melaksanankan pendidikan nonformal di tengah masyarakat. http://www.depdiknas.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=121PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ”MENATA KEMBALI KERANGKA KEHIDUPAN BERNEGARA BERDASARKAN PANCASILA” DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI LAHIR PANCASILA JAKARTA CONVENTION CENTER, 1 JUNI 2006
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu ’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati, para Pimpinan dan Anggota Lembaga-lembaga Negara, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan Polri, Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat, Yang saya muliakan, para Pejuang Kemerdekaan, Keluarga Pahlawan Nasional, para Tokoh, para Pemakalah, dan Pembaca Maklumat ke-Indonesiaan, Yang saya hormati, para Pimpinan Organisasi Politik dan Kemasyarakatan, para Pimpinan Perguruan Tinggi, para Mahasiswa, para Pemuda, para Artis/Seniman,
Saudara-saudara sekalian yang saya cintai,
Pada kesempatan yang membahagiakan dan insya Allah penuh berkah ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, atas perkenan rahmat dan rido-Nya, kita masih diberi semangat, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Kita bersyukur, karena hari ini kita bersama-sama memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Meskipun kita terus senantiasa bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, hari ini Indonesia berduka, karena bencana alam yang menimpa sebagian Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Oleh karena itu, saya mengajak hadirin sekalian untuk sejenak berdiri, untuk bersama-sama mengheningkan cipta, mengenang saudara-saudara kita yang meninggal dunia, menjadi syuhada karena bencana alam tersebut, dan mendoakan agar mereka semua diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga pula keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan bersama-sama kita semua dapat melanjutkan kehidupannya di masa depan.
Mengheningkan cipta mulai. Selesai. Saya persilakan duduk kembali.
Saudara-saudara,
Saya mendapat keh |
|